Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Saneb menambahkan, pelayanan gereja tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui kehadiran nyata ketika masyarakat menghadapi penderitaan.
“GMIT percaya bahwa panggilan gereja tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir di tempat air mata jatuh dan di mana kehidupan harus dibangun kembali,” katanya.
Posko GMIT Dibuka di Tiga Wilayah
Sebagai bagian dari respons tanggap darurat, GMIT telah membentuk Pos Terpadu (Poster) sejak Sabtu (15/8/2026).
Posko tersebut beroperasi di tiga wilayah strategis, yakni Ruteng, Bajawa dan Maumere.
Ketiga posko berfungsi sebagai pusat koordinasi penanganan bencana sekaligus penyaluran bantuan logistik kepada masyarakat terdampak.
Prinsip pelayanan tanpa sekat agama juga terlihat di lokasi pengungsian Jemaat GMIT Epata Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Posko tersebut menampung sekitar 90 kepala keluarga, termasuk warga beragama Muslim dan Katolik.
Mereka berteduh di bawah tenda darurat yang sama serta mendapatkan pasokan bantuan dari posko kemanusiaan GMIT.
Ketua BPRB Sinode GMIT, Pdt. Adi Amtaran, mengatakan dari Posko Ruteng bantuan telah disalurkan ke 16 titik pengungsian yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang agama.
Tim GMIT Tempuh Jalur Selatan Flores
Aksi kemanusiaan GMIT turut diperkuat Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn (Jacky) F. Manuputty, yang turun langsung ke lapangan bersama rombongan Sinode GMIT dan Majelis Klasis Flores Barat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan