Tambolaka, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat penurunan angka anak tidak sekolah sebesar 19,28 persen.

Bupati SBD Ratu Ngadu Bonnu Wulla menyampaikan capaian tersebut dalam sambutannya pada Upacara Bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Galatama, Tambolaka, Senin (17/8/2026).

Menurut Ratu Wulla, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Sumba Barat Daya turun dari 14.576 anak pada 2025 menjadi 11.766 anak per Juli 2026.

“Penurunan angka anak tidak sekolah ini merupakan salah satu capaian positif pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat,” ujar Ratu Wulla dalam sambutannya.

Ratu Wulla mengatakan pendidikan merupakan salah satu investasi paling penting dalam menentukan masa depan Sumba Barat Daya.

Menurut dia, pembangunan daerah membutuhkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan memiliki daya saing.

“Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya terus berkomitmen memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan mutunya agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.

Upaya menekan angka anak tidak sekolah dilakukan bersamaan dengan penguatan berbagai program pendidikan.

Salah satunya melalui penyaluran Program Indonesia Pintar kepada lebih dari 40.000 siswa dengan alokasi anggaran mendekati Rp20 miliar.

Selain itu, pemerintah daerah mengalokasikan lebih dari Rp67 miliar untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di 81 sekolah.

Pemkab Sumba Barat Daya juga melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik.

Sebanyak 128 guru telah mengikuti bimbingan teknis literasi dan numerasi. Sementara 164 guru difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1.

Pemerintah daerah juga memperkuat kedisiplinan tenaga pendidik dan aparatur melalui penerapan sistem absensi digital SI-ANGLE.

Menurut Ratu Wulla, peningkatan akses pendidikan tidak cukup hanya dengan memastikan anak masuk sekolah.

Kualitas pembelajaran dan kemampuan tenaga pendidik juga menjadi bagian penting agar anak mendapatkan pendidikan yang layak.

Selain program pendidikan dasar dan menengah, Pemkab SBD juga menyediakan program beasiswa bagi masyarakat.

Pada 2026, jumlah penerima beasiswa mencapai 990 orang dengan total alokasi anggaran sebesar Rp5,132 miliar.

Program tersebut mencakup beasiswa daerah untuk 100 orang, kerja sama dengan Universitas Atma Jaya sebanyak 44 orang, beasiswa kedokteran 35 orang, beasiswa berprestasi 745 orang, serta beasiswa GMKI bagi ASN dan non-ASN sebanyak 56 orang.

Ratu Wulla mengatakan program tersebut diarahkan untuk membuka kesempatan bagi masyarakat Sumba Barat Daya melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktoral.

“Hingga saat ini telah disalurkan sebesar Rp2,197 miliar kepada 448 mahasiswa, sementara sisanya akan dicairkan sesuai tahapan dan kelengkapan administrasi,” jelasnya.

Ratu Wulla menambahkan, pembangunan pendidikan di Sumba Barat Daya tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal.

Pendidikan, kata dia, harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya daerah.

Pemkab SBD terus melakukan revitalisasi terhadap 20 rumah adat serta menyerahkan bantuan alat musik tradisional gong kepada 26 sekolah.

“Hal ini merupakan bagian dari upaya kita untuk memupuk kebanggaan generasi muda terhadap warisan leluhur,” kata Ratu Wulla.

Ia berharap berbagai program tersebut dapat terus menekan angka anak tidak sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sumba Barat Daya.

Ratu Wulla juga mengajak orang tua, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan pendidikan.

“Kita membutuhkan dukungan orang tua, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat agar setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang layak serta tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (rnc29)