Kalabahi, RakyatNTT.ID – Lima tahun setelah dihantam Badai Seroja pada 2021, Jembatan Kalunan yang menghubungkan Desa Mataru Selatan dan Desa Lakatuli, Kecamatan Mataru, Kabupaten Alor, hingga kini belum juga dibangun kembali.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat mempertaruhkan keselamatan setiap kali menyeberangi Kali Kalunan dan memicu desakan agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan.

Sorotan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Alor dari Fraksi Gerindra, Yohanis Atamai, usai meninjau langsung lokasi jembatan pada Selasa (30/6/2026).

Warga Pertaruhkan Nyawa Setiap Hari

Saat berada di lokasi, Yohanis Atamai menyaksikan langsung aktivitas warga yang harus menyeberangi sungai tanpa jembatan.

Ia melihat para ibu menggendong anak melintasi aliran sungai, sementara guru berjalan kaki menyeberang Kali Kalunan untuk menuju sekolah tempat mereka mengajar.

“Kurang lebih 30 menit saya berada di lokasi. Saya melihat langsung ibu-ibu menggendong anak menyeberangi kali, bapak-ibu guru berjalan kaki. Ini masih musim kemarau, bagaimana kalau musim hujan dan banjir, pastinya mereka tidak bisa menyeberang,” ujarnya.

Menurut Atamai, kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan karena menyangkut keselamatan masyarakat dan akses terhadap layanan dasar.

DPRD Perjuangkan Tiga Jembatan Strategis

Atamai menjelaskan bahwa pembangunan Jembatan Kalunan menjadi salah satu prioritas yang terus diperjuangkannya bersama dua jembatan strategis lainnya, yakni Jembatan Pido di Desa Lipang dan satu jembatan di Pulau Pantar.

Ia berkomitmen mengawal aspirasi masyarakat agar pembangunan ketiga jembatan tersebut memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Menurutnya, pembangunan kembali Jembatan Kalunan sudah menjadi kebutuhan mendesak karena Kali Kalunan merupakan salah satu sungai terbesar di Kabupaten Alor setelah Kali Lembar dan Kali Buraga.

Saat musim hujan, debit air yang tinggi kerap memutus akses transportasi masyarakat secara total.

Warga Sudah Menunggu Hampir Lima Tahun

Tokoh muda Mataru, Noh Onisimus Malaikari, mengatakan masyarakat telah menanti pembangunan jembatan sejak hanyut diterjang Badai Seroja pada 2021.

Ia menyebut Kali Kalunan bersumber dari sebelas mata air sehingga aliran sungainya sangat deras ketika hujan turun.

“Masyarakat sangat kesulitan ketika musim hujan. Kali Kalunan ini berasal dari 11 mata air, sehingga ketika hujan turun aktivitas masyarakat praktis lumpuh,” katanya.

Menurut Onisimus, terputusnya akses jalan berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan maupun pendidikan.

Warga kesulitan membawa pasien ke puskesmas, ibu hamil tidak dapat segera dirujuk untuk melahirkan, sementara siswa SMP dan SMA sering kali tidak bisa berangkat ke sekolah karena akses menuju desa terendam banjir.

Desa Lakatuli Masih Belum Nikmati Listrik PLN

Selain persoalan jembatan, Onisimus juga menyoroti belum masuknya layanan listrik PLN ke Desa Lakatuli.

Ia mengungkapkan bahwa dari tujuh desa di Kecamatan Mataru, hanya Desa Lakatuli yang hingga kini belum menikmati aliran listrik.

“Di Kecamatan Mataru ada tujuh desa. Enam desa sudah menikmati listrik, tetapi Desa Lakatuli sampai hari ini belum mendapatkan penerangan. Kami berharap pemerintah tidak hanya membangun jembatan, tetapi juga menghadirkan layanan listrik bagi masyarakat,” ujarnya.

Padahal, Desa Lakatuli dihuni sekitar 1.000 jiwa dan telah memiliki berbagai fasilitas umum, seperti sekolah, puskesmas, rumah ibadah, hingga kantor Polsek.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur dan layanan dasar di wilayah pedalaman Alor.

Jembatan Kalunan jadi Urat Nadi Kehidupan Warga

Belum dibangunnya kembali Jembatan Kalunan menjadi potret masih adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Alor.

Bagi masyarakat Desa Mataru Selatan dan Desa Lakatuli, keberadaan jembatan bukan sekadar sarana penghubung, tetapi menjadi urat nadi kehidupan yang menentukan kelancaran akses pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga mobilitas masyarakat sehari-hari.

Warga berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Jembatan Kalunan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal tanpa harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali menyeberangi sungai. (rnc)