Kupang, RakyatNTT.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah internasional.

Dosen Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Undana, Muh Farhan, S.Kel., M.Si., berhasil meraih pendanaan penelitian bergengsi dari Kurita Water and Environment Foundation (KWEF) Research Grant Program 2026, sebuah program hibah kompetitif yang diselenggarakan oleh yayasan lingkungan terkemuka asal Jepang.

Berdasarkan surat keputusan resmi KWEF, proposal penelitian yang diajukan Muh Farhan dinyatakan lolos seleksi dan memperoleh pendanaan sebesar JPY400.000.

Hibah tersebut akan mendukung pelaksanaan riset selama satu tahun, mulai Oktober 2026 hingga September 2027.

Keberhasilan ini menjadi bukti meningkatnya daya saing dosen Undana dalam kompetisi riset internasional sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi tersebut sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada solusi bagi persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Teliti Mikroplastik di Kawasan Marikultur Kabupaten Kupang

Penelitian yang akan dijalankan mengusung judul “Integrated Spatial Assessment of Water Quality and Microplastic Contamination in Mariculture Areas: Implications for Environmental Risk and Optimal Site Selection in Kupang Regency, Indonesia.”

Riset tersebut berfokus pada pemetaan kualitas air dan tingkat kontaminasi mikroplastik di sejumlah kawasan budidaya laut (marikultur) di Kabupaten Kupang.

Selama lima bulan, tim peneliti akan melakukan pengambilan sampel secara berkala, kemudian menganalisis hasilnya menggunakan Geographic Information Systems (GIS) untuk menghasilkan peta spasial yang menggambarkan kondisi lingkungan perairan secara komprehensif.

Peta tersebut diharapkan mampu menjadi dasar ilmiah dalam menentukan lokasi budidaya laut yang aman, produktif, dan berkelanjutan.

Libatkan Mahasiswa Peraih Hibah The Explorer Club

Meski hibah KWEF diperuntukkan bagi peneliti individu berusia di bawah 40 tahun, Muh Farhan berencana melibatkan sejumlah mahasiswa Undana yang telah mendapatkan pelatihan dalam pengambilan sampel dan analisis laboratorium.

Mahasiswa tersebut juga merupakan penerima research grant The Explorer Club, sehingga keterlibatan mereka diharapkan mampu memperkuat kualitas riset sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia muda di bidang ilmu kelautan.

Saat ini, persiapan penelitian telah memasuki tahap penyelesaian administrasi hibah, penentuan titik pengambilan sampel, serta koordinasi dengan berbagai pihak agar kegiatan lapangan dapat dimulai sesuai jadwal pada Oktober 2026.

“Proses seleksi dilakukan melalui penilaian proposal oleh komite ilmiah KWEF dan komite khusus di Indonesia berdasarkan aspek kebaruan, kualitas metodologi, rekam jejak peneliti, serta dampak riset terhadap lingkungan perairan. KWEF tidak memublikasikan jumlah proposal maupun tingkat kelulusannya, namun kompetisinya dipastikan sangat ketat karena diikuti peneliti dari berbagai negara ASEAN,” ujar Muh Farhan.

Targetkan Publikasi Internasional Bereputasi

Selain menghasilkan peta spasial kondisi lingkungan pesisir Kabupaten Kupang, penelitian ini juga ditargetkan melahirkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi serta dipresentasikan dalam konferensi ilmiah internasional.

Luaran tersebut diharapkan semakin memperkuat kontribusi akademik Undana dalam pengembangan ilmu lingkungan perairan, marikultur berkelanjutan, serta pengelolaan sumber daya pesisir.

Keberhasilan memperoleh hibah dari yayasan Jepang ini juga menjadi bagian dari komitmen Undana dalam mendorong inovasi riset yang mampu menjawab tantangan nyata di kawasan kepulauan, khususnya Indonesia bagian timur.

Bantu Atasi Gagal Panen Rumput Laut di NTT

Penelitian mengenai kualitas air dan mikroplastik ini diproyeksikan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Kupang dan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selama ini, budidaya rumput laut menjadi salah satu sumber penghidupan utama ribuan keluarga pesisir. Namun, produktivitas marikultur sering terganggu akibat menurunnya kualitas perairan, serangan penyakit ice-ice, tekanan aktivitas manusia, hingga pencemaran mikroplastik yang sulit terdeteksi.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak pembudidaya mengalami gagal panen karena belum memiliki informasi ilmiah mengenai lokasi budidaya yang aman.

Melalui pemetaan berbasis teknologi GIS, penelitian ini diharapkan mampu mengakhiri praktik budidaya yang masih mengandalkan perkiraan semata.

Jadi Acuan Pemerintah dan Komunitas Pesisir

Dalam jangka panjang, hasil penelitian akan disosialisasikan kepada komunitas pesisir dan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai referensi dalam penyusunan tata ruang laut dan pengelolaan kawasan budidaya.

Dengan adanya peta spasial berbasis data ilmiah, para pembudidaya rumput laut akan memiliki panduan yang lebih akurat untuk memilih lokasi budidaya yang minim risiko pencemaran dan penyakit.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil panen, mengurangi potensi kerugian ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Tak hanya memberikan dampak bagi masyarakat lokal, keberhasilan ini juga memperluas jejaring kolaborasi internasional Undana dalam mengembangkan riset yang memberikan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan dan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Indonesia. (*/rnc)