“Kita patut menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena masih memberi kita kesempatan mengikuti kegiatan perlombaan dan workshop Bulan Budaya dan Bahasa Jemaat GMIT Sontetus Oe’ika serta penelusuran asal-usul masyarakat Baumata,” katanya.

Aurum menegaskan bahwa bagi Pemerintah Kabupaten Kupang, kegiatan pelestarian budaya memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan budaya. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga memori kolektif masyarakat, memperkuat identitas lokal, serta mempersiapkan generasi muda agar memahami sejarah dan akar budayanya.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Kupang yang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu instrumen penting dalam pembangunan daerah.

“Dalam perspektif pemerintah, ini sangat strategis karena sejalan dengan program pemerintah di bidang kebudayaan, yaitu melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal sebagai kekuatan pembangunan daerah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Oe’ika dan Desa Baumata Utara. Menurutnya, masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani masih memiliki hubungan yang erat dengan alam serta tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.