Kupang, RakyatNTT.ID – Di tengah hiruk pikuk perkembangan Kota Kupang, ada sosok sederhana yang setiap hari berjibaku dengan tumpukan sampah demi menghidupi keluarganya. Dialah Filipus Nufeto, warga Kelurahan Oesapa Barat yang dikenal sebagai “pejuang sampah” di lingkungan tempat tinggalnya.

Hampir setiap hari, pria paruh baya itu mengelilingi kawasan RT 08 dan RT 09 Kelurahan Oesapa Barat untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah warga maupun kompleks kontrakan.

Hanya bermodalkan sebuah gerobak besi bantuan Pemerintah Kota Kupang dan dua lembar karung bekas, Filipus menjalani pekerjaannya dengan penuh ketekunan.

Pantauan RakyatNTT.ID pada Jumat (12/6/2026), Filipus memulai aktivitasnya sejak pukul 05.00 hingga 06.00 Wita. Pada sore hari, ia kembali bekerja mulai pukul 15.00 hingga 17.00 Wita. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari demi memastikan lingkungan tempat tinggal warga tetap bersih.

Yang memprihatinkan, Filipus bekerja dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Ia hanya menggunakan masker seharga Rp2.000 yang dipakai berulang kali tanpa alat pelindung lain untuk melindungi dirinya dari bakteri maupun bau menyengat sampah.

Saat ditemui di lokasi pengangkutan, Filipus mengaku bahwa tugas tersebut dijalankannya berdasarkan penunjukan dari Pemerintah Kelurahan Oesapa Barat. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp1 juta setiap bulan yang berasal dari iuran warga.

“Uang yang saya dapat dari iuran warga. Kalau untuk kompleks kontrakan biasanya sebulan Rp250.000,” ungkap Filipus.

Namun, penghasilan tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab, apabila gerobak yang digunakannya mengalami kerusakan, seluruh biaya perbaikan harus ditanggung sendiri.

“Kalau untuk biaya hidup tentu kurang, karena kalau gerobak rusak seperti ban pecah atau ada kerusakan lain tentu saya ganti sendiri,” tuturnya.

Di balik pengabdiannya menjaga kebersihan lingkungan, Filipus menyimpan harapan yang hingga kini belum terwujud. Ia mengaku pernah dijanjikan akan diangkat menjadi tenaga honorer di tingkat kelurahan. Harapan itu muncul sejak 2023, namun hingga kini belum ada kepastian.

“Mereka mau urus SK honor di kelurahan, tetapi sampai hari ini tidak pernah. Dari 2023 itu, ini yang janji bapak RT,” katanya.

Selain menghadapi keterbatasan ekonomi, Filipus juga mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat masyarakat masih belum optimal.

Sampah yang dikumpulkan warga umumnya belum dipilah berdasarkan jenisnya, sehingga dirinya sering kali harus melakukan pemisahan sampah secara langsung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Meski demikian, Filipus tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Di tengah derasnya arus modernisasi dan urbanisasi Kota Kupang, ia terus bertahan sebagai salah satu garda terdepan yang menjaga kebersihan lingkungan, sembari berjuang untuk menghidupi keluarganya.

Di balik gerobak tua dan masker sederhana yang dipakainya setiap hari, tersimpan kisah tentang kerja keras, kesetiaan, dan pengabdian yang kerap luput dari perhatian banyak orang. (rnc04)