Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Capaian literasi dan numerasi siswa SD hingga SMP di daerah ini masih berada di bawah rata-rata nasional, sehingga memicu desakan agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan, rata-rata nilai TKA Bahasa Indonesia jenjang SD/MI secara nasional mencapai 60,15.
Sementara NTT hanya memperoleh nilai 49,80. Pada mata pelajaran Matematika, rata-rata nasional berada di angka 43,45, sedangkan NTT hanya mencatatkan skor 36,06.
Kondisi serupa terjadi pada jenjang SMP/MTs. Nilai Bahasa Indonesia secara nasional mencapai 60,83, namun capaian NTT hanya berada di angka 52,48. Untuk Matematika, rata-rata nasional sebesar 40,42, sedangkan NTT memperoleh nilai 36,21.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo, meminta seluruh pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota untuk memberikan perhatian serius terhadap masa depan pendidikan di NTT.
Menurutnya, hasil TKA 2026 bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata dari tantangan besar yang masih dihadapi dunia pendidikan di daerah.
“Ini menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT yang berkaitan dengan pendidikan,” kata Winston.
Ia menegaskan bahwa rendahnya hasil TKA tidak bisa dibebankan kepada peserta didik semata. Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan masih adanya berbagai persoalan dalam sistem pendidikan, mulai dari ketimpangan mutu sekolah, keterbatasan sarana dan prasarana, akses teknologi, hingga kualitas proses pembelajaran di berbagai wilayah.
Sebagai anggota Komisi V DPRD NTT, Winston menilai hasil TKA ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan di daerah.
“Tidak bisa main-main. Yang kita butuhkan hari ini bukan saling menyalahkan, tetapi mengakui bahwa pendidikan kita memang tidak sedang baik-baik saja,” tegasnya.
Jadi Titik Balik Pendidikan NTT
Winston menilai capaian TKA yang masih rendah harus menjadi titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pembenahan serius, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa yang dinilai masih menjadi persoalan utama.
“Kita harus akui bahwa urusan literasi dan numerasi masih menjadi persoalan besar,” ujarnya.
DPRD NTT, lanjut dia, akan mendorong fungsi pengawasan agar kebijakan pendidikan dan penggunaan anggaran benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan mutu belajar siswa.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi NTT bersama pemerintah kabupaten dan kota segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil TKA 2026.
“Kami meminta dalam koordinasi bersama Bapak Gubernur, Dinas Pendidikan, serta pemerintah kabupaten dan kota agar segera mengevaluasi hasil TKA kita secara menyeluruh,” katanya.
Menurut Winston, pemerintah daerah tidak perlu merasa malu dengan hasil yang ada. Justru, capaian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kelemahan yang selama ini terjadi.
“Karena itu, hasil TKA ini harus menjadi titik balik untuk melakukan pembinaan yang lebih serius dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota,” tambahnya.
Peningkatan Kualitas Guru jadi Prioritas
Selain pembangunan sarana dan prasarana sekolah, Winston menilai peningkatan kualitas guru harus menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Selama ini, perhatian pemerintah dinilai lebih banyak tertuju pada pembangunan fisik sekolah. Padahal, pendidikan dan pelatihan (diklat) maupun bimbingan teknis bagi guru mata pelajaran sangat penting agar para pendidik dapat terus memperbarui pengetahuan dan metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Pengetahuan guru itu perlu terus diisi. Guru bukan manusia yang maha tahu, mereka harus terus belajar dan memperbarui kemampuan. Namun, anggaran untuk pelatihan dan peningkatan kapasitas guru masih sangat kecil,” ungkapnya.
Ia menambahkan, apabila pembangunan sarana dan prasarana telah banyak didukung pemerintah pusat, maka pemerintah daerah sebaiknya lebih memprioritaskan peningkatan kualitas tenaga pendidik sebagai investasi jangka panjang untuk memperbaiki mutu pendidikan di NTT.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Naitboho, juga mengakui hasil TKA 2026 menjadi bahan refleksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. (rnc04)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan