Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan dan mendekati level terendah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), Rupiah melemah 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke posisi Rp17.880 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan tersebut membuat kurs Rupiah semakin dekat dengan level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Bahkan sejumlah analis memperkirakan mata uang Garuda masih berpotensi tertekan hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi dan kebijakan moneter.

Faktor Global jadi Pemicu Utama Pelemahan Rupiah

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, laporan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama 60 hari memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan sentimen pasar global.

Prospek perdamaian tersebut sempat meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama terkait aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena lalu lintas perdagangan di kawasan tersebut belum kembali normal.

Di sisi lain, investor juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi masih relatif tinggi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I 2026 direvisi turun menjadi 1,6 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 2 persen. Data ketenagakerjaan juga menunjukkan peningkatan klaim pengangguran awal yang menambah dinamika pasar global.

Capital Outflow dan Tingginya Permintaan Dolar AS

Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat mendorong investor global memindahkan dana ke instrumen keuangan AS yang dinilai lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.

Fenomena capital outflow tersebut turut menekan pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan impor energi sehingga permintaan dolar AS untuk pembayaran impor ikut melonjak. Kondisi tersebut diperparah oleh melambatnya ekspor yang menyebabkan pasokan dolar di dalam negeri menjadi lebih terbatas.

Permintaan dolar AS juga meningkat karena kebutuhan pembayaran dividen korporasi, impor rutin, serta sentimen pasar terhadap kondisi fiskal nasional dan pasar keuangan domestik.

Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Berdasarkan analisis yang dilakukan, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan Rupiah pada pekan depan masih akan berada dalam tren melemah.

Ia memproyeksikan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan harian. Sementara untuk pergerakan mingguan, Rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Bank Indonesia Ungkap Penyebab Tekanan Rupiah

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan kebutuhan valas domestik yang meningkat.

Menurutnya, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia.

Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen meningkat di tengah terbatasnya arus masuk dolar AS ke pasar domestik.

“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman,” ujar Denny.

BI Siapkan Intervensi di Pasar Keuangan

Untuk menjaga stabilitas Rupiah, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi secara konsisten baik di pasar domestik maupun internasional.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga memperkuat strategi bauran kebijakan moneter dengan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik agar tetap kompetitif bagi investor global.

BI Batasi Pembelian Dolar tanpa Dokumen Pendukung

Sebagai langkah pengendalian permintaan dolar AS, Bank Indonesia juga memperketat aturan pembelian valuta asing.

Mulai Juni 2026, BI menetapkan batas pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying asset) sebesar USD25.000 per pelaku per bulan.

Kebijakan ini bertujuan mengurangi aktivitas spekulatif yang dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

Bank Indonesia juga memperkuat koordinasi dengan berbagai otoritas terkait untuk mengawasi aktivitas pembelian dolar dalam jumlah besar oleh perbankan maupun korporasi.

Menteri Keuangan: Pemerintah Sudah Antisipasi Risiko Rupiah

Di tengah pelemahan Rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah telah memperhitungkan berbagai skenario risiko dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya mengatakan pemerintah tidak perlu melakukan perhitungan ulang APBN karena simulasi terhadap berbagai kemungkinan, termasuk kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan Rupiah, telah dilakukan sebelumnya.

Pemerintah juga berupaya memperkuat pasar obligasi sebagai salah satu instrumen mitigasi terhadap gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.

Dengan berbagai langkah yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah, stabilitas nilai tukar Rupiah diharapkan tetap terjaga meskipun tekanan dari faktor global masih membayangi pasar keuangan nasional. (*/rnc)