Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Sekolah bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai kemanusiaan, toleransi, dan sikap saling menghargai,” ungkapnya.
Materi utama disampaikan oleh Ismail E. Natonis, M.H., dengan moderator Yandry Diana Dethan, M.Pd. Dalam pemaparannya, Ismail menekankan bahwa cinta kemanusiaan merupakan fondasi utama dalam kehidupan bersama di tengah perbedaan.
Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi kebaikan sekaligus sisi negatif seperti egoisme dan keserakahan, sehingga nilai kemanusiaan perlu ditanamkan sejak dini.
“Kebaikan adalah bentuk kemanusiaan terbaik. Jika kita sibuk menghakimi orang lain, kita tidak punya waktu untuk mencintai mereka,” tegasnya di hadapan siswa.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai agama tidak boleh dipisahkan dari nilai kemanusiaan. Ketika kemanusiaan dilukai, maka nurani setiap manusia akan terusik.
Dalam kegiatan ini, siswa juga diperkenalkan dengan konsep Kurikulum Berbasis Cinta, yang mencakup cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan, serta bangsa dan negara. Selain itu, siswa diajak memahami nilai-nilai moderasi seperti keadilan, musyawarah, perdamaian, penolakan terhadap kekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

