Program ini mengatur waktu belajar rutin setiap Senin hingga Jumat di luar jam sekolah, dengan penyesuaian kondisi keluarga. Tidak hanya soal tugas sekolah, gerakan ini juga menyasar pembentukan karakter, penguatan nilai agama, literasi, hingga pengenalan budaya lokal.

Yang tak kalah penting, kebijakan ini juga menyentil penggunaan gawai yang kian tak terkendali.

“Anak-anak perlu didampingi, bukan dibiarkan tenggelam dalam layar. Keluarga harus hadir, bukan sekadar mengawasi,” kata Melki.

Iklan

Pendidikan Karakter jadi Garis Keras

Gubernur Melki menegaskan, arah pendidikan NTT ke depan harus jelas: membangun manusia utuh. Artinya, sekolah tidak boleh hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga karakter, kreativitas, dan kemandirian.

Gerakan Jam Belajar disebut sebagai pintu masuk membangun ekosistem pendidikan berbasis keluarga—sesuatu yang selama ini kerap terabaikan.
Dengan pendekatan ini, pemerintah ingin memastikan anak-anak NTT tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, mencintai budaya, dan memiliki kedekatan kuat dengan keluarga.

Momentum Hardiknas, Bukan Seremoni

Peringatan Hardiknas 2026 di NTT juga dihadiri Wakil Gubernur Johni Asadoma, Ketua DPRD Emi Nomleni, Plh. Sekda Flori Rita Wuisan, Forkopimda, serta insan pendidikan.