SATU tahun bukanlah rentang waktu yang panjang. Dalam hitungan musim, ia hanya cukup untuk melihat dedaunan gugur lalu tumbuh kembali.

Namun, dalam perjalanan sebuah organisasi, satu tahun adalah ujian paling jujur: apakah sebuah gerakan benar-benar hidup sebagai organisme yang berdampak, atau sekadar ada sebagai simbol kelembagaan yang tak bernyawa?

Dalam konteks inilah, *Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Nusa Tenggara Timur*, tepat genap satu tahun setelah dilantik oleh DPP GAMKI pada 13 Mei 2025, telah memberikan jawaban yang tak terbantahkan melalui kerja nyata di bumi Flobamorata.

Membaca Zaman, Menjawab Realitas

Di tengah dinamika sosial masyarakat yang terus berubah, GAMKI NTT memilih untuk hidup. Bukan hanya eksis, tetapi bergerak, merespons, dan menjawab realitas dengan iman yang tidak berhenti di atas altar, melainkan menjelma menjadi tindakan nyata di ruang publik.

Lebih dari sekadar perayaan Dies Natalis GAMKI ke-64, satu tahun masa kerja ini menjadi cermin tentang bagaimana pemuda Kristen membaca zaman, tidak sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi.

Arah gerakan itu tampak jelas sejak awal. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Sinode GMIT bukanlah seremoni administratif biasa. Ini adalah pernyataan sikap strategis bahwa Gereja dan organisasi kepemudaan harus berjalan bersama menjawab persoalan umat secara kontekstual, terstruktur, dan berkelanjutan.

Keberanian Bersuara di Ruang Publik

Yang paling menarik dari perjalanan satu tahun ini adalah keberanian GAMKI NTT masuk ke dalam isu-isu yang kerap dianggap “tidak nyaman”. Melalui dialog publik bersama RRI serta kanal YouTube Orela TV, GAMKI NTT dengan lantang membahas hak disabilitas, inklusi sosial, kekerasan seksual, isu HIV/AIDS, kesehatan mental, hingga persoalan PPDB dan pendidikan politik.