TIMNAS Swiss kembali memastikan diri tampil di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Partisipasi ini menjadi yang keenam secara beruntun sekaligus ke-13 sepanjang sejarah mereka di ajang sepak bola paling bergengsi dunia.

Swiss dikenal sebagai salah satu tim paling konsisten di Eropa. Dalam beberapa dekade terakhir, mereka hampir selalu mampu melewati fase grup, meski kerap terhenti secara dramatis di babak gugur.

Dengan kombinasi pemain senior dan talenta muda, Swiss datang dengan kekuatan yang semakin matang. Hal ini membuat mereka tetap menjadi lawan yang patut diperhitungkan di turnamen besar.

Perjalanan Impresif di Kualifikasi

Dilansir dari Bola.net, Swiss menunjukkan performa solid sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka mengawali langkah dengan kemenangan meyakinkan 4-0 atas Kosovo lewat kontribusi dua gol Breel Embolo.

Konsistensi berlanjut saat Swiss mengalahkan Slovenia 3-0 dan menundukkan Swedia 2-0. Tim asuhan Murat Yakin tampil seimbang dengan pertahanan kokoh dan serangan efektif.

Di laga tandang, Swiss tetap stabil dengan hasil imbang tanpa gol melawan Slovenia, sebelum kembali mengalahkan Swedia dengan skor 4-1. Hasil imbang kontra Kosovo di laga terakhir memastikan mereka lolos tanpa kekalahan.

Secara keseluruhan, Swiss mencatatkan 14 gol dan hanya kebobolan dua kali, dengan selisih gol +12.

Rekam Jejak di Piala Dunia

Swiss memiliki sejarah panjang di Piala Dunia sejak debut pada 1934. Prestasi terbaik mereka adalah mencapai perempat final sebanyak tiga kali, yakni pada 1934, 1938, dan 1954.

Dalam era modern, Swiss memang belum mampu mengulang capaian tersebut. Namun, mereka tetap menunjukkan konsistensi dengan lolos ke babak 16 besar dalam lima dari enam partisipasi terakhir sejak 1994.

Meski sering tersingkir di fase gugur, Swiss dikenal sebagai tim yang sulit dikalahkan, bahkan kerap memaksa lawan hingga adu penalti.

Murat Yakin dan Fondasi Taktik Swiss

Murat Yakin memimpin Timnas Swiss sejak 2021 menggantikan Vladimir Petkovic. Sebagai mantan pemain timnas, ia memahami karakter permainan Swiss yang mengutamakan disiplin dan organisasi.

Di bawah asuhannya, Swiss tampil cukup solid di Piala Dunia 2022 meski harus tersingkir di babak 16 besar. Kekalahan telak 1-6 dari Portugal menjadi bahan evaluasi penting bagi tim.

Performa Swiss meningkat di Euro 2024, di mana mereka berhasil menembus perempat final setelah menyingkirkan Italia sebelum kalah dramatis dari Inggris lewat adu penalti.

Granit Xhaka, Motor Permainan Swiss

Kapten tim Granit Xhaka tetap menjadi sosok sentral dalam skuad Swiss. Gelandang berusia 33 tahun ini dikenal sebagai pemimpin sekaligus pengatur tempo permainan.

Pengalamannya bermain di klub-klub top Eropa seperti Arsenal dan Bayer Leverkusen, serta kiprahnya bersama Sunderland pada musim 2025/2026, menjadi nilai tambah bagi tim.

Xhaka juga tercatat sebagai pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah Timnas Swiss. Pengalamannya di berbagai turnamen besar, termasuk tiga edisi Piala Dunia, menjadikannya kunci dalam perjalanan Swiss di 2026.

Daftar Skuad Timnas Swiss (Maret 2026)

Kiper:
Gregor Kobel (Borussia Dortmund), Yvon Mvogo (Lorient), Marvin Keller (Young Boys)

Belakang:
Miro Muheim (Hamburger SV), Silvan Widmer (Mainz 05), Nico Elvedi (Borussia Monchengladbach), Manuel Akanji (Inter Milan), Ricardo Rodriguez (Real Betis), Eray Comert (Valencia), Luca Jaquez (VfB Stuttgart), Aurele Amenda (Eintracht Frankfurt)

Tengah:
Denis Zakaria (AS Monaco), Remo Freuler (Bologna), Johan Manzambi (SC Freiburg), Granit Xhaka (Sunderland), Ardon Jashari (AC Milan), Djibril Sow (Sevilla), Vincent Sierro (Al-Shabab), Alvyn Sanches (Young Boys), Michel Aebischer (Pisa), Fabian Rieder (FC Augsburg), Joel Monteiro (Young Boys)

Depan:
Breel Embolo (Rennes), Dan Ndoye (Nottingham Forest), Ruben Vargas (Sevilla), Noah Okafor (Leeds United)

Target Realistis Swiss di Piala Dunia 2026

Dengan materi pemain yang solid dan pengalaman di level internasional, Swiss menatap Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar. Target menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak 1954 menjadi misi yang realistis.

Jika mampu menjaga konsistensi dan memaksimalkan peluang di fase gugur, Swiss berpotensi mencatat sejarah baru di panggung dunia. (*/rnc)