Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Lalu terdengarlah seruan Yesus: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini bukan seruan putus asa tanpa arah. Ini adalah seruan dari Mazmur 22. Dan di sinilah sangat penting: Yesus tidak mati di luar Kitab Suci, tetapi di dalam Kitab Suci. Ketika dunia sedang mengatur narasinya sendiri; narasi kekuasaan, narasi ejekan, narasi penghancuran, Yesus mengembalikan semuanya ke pusat: kepada Allah.
Dengan mengutip Mazmur, Yesus menolak membiarkan penderitaan-Nya ditafsirkan hanya oleh politik atau hanya oleh kebencian manusia. Ia menempatkan luka itu kembali ke hadapan Bapa. Seakan-akan Yesus berkata: kalian boleh menguasai tubuh-Ku, tetapi kalian tidak akan menguasai hubungan-Ku dengan Allah.
Dan perhatikan, setelah itu Yesus berseru lagi dengan suara nyaring, lalu menyerahkan nyawa-Nya. Ini penting sekali. Nyawa-Nya tidak dirampas begitu saja; Ia menyerahkannya. Dari kuasa manusia, kembali ke kuasa Allah. Dari tangan algojo, kembali ke tangan Bapa. Maka Jumat Agung bukan kisah Allah kalah.
Jumat Agung adalah kisah Allah yang tetap berdaulat bahkan ketika Ia memilih diam. Diam-Nya bukan karena lemah. Diam-Nya adalah bentuk kasih yang menahan diri. Allah bisa menghancurkan mereka yang menyalibkan Sang Kudus. Allah bisa merobohkan semuanya dalam sekejap. Tetapi Allah memilih jalan yang lain: Ia membiarkan kasih-Nya menanggung luka sampai selesai, supaya keselamatan manusia dituntaskan. Inilah keagungan Jumat Agung. Keagungannya justru terletak pada kasih yang tidak membalas dengan kebencian.
Tabir yang Terbelah dan Kuasa yang Terguncang
Lalu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Itu bukan kecelakaan. Itu tanda. Itu guncangan atas arogansi spiritual manusia. Selama ini Bait Allah bisa dibanggakan sebagai pusat kehadiran, pusat identitas, pusat kontrol religius. Tetapi ketika Yesus mati, tabir itu terbelah. Apa artinya? Bahwa Allah tidak lagi bisa dipenjara oleh bangunan, simbol, atau monopoli kelompok religius tertentu.
