Jakarta, RakyatNTT.ID Israel dilaporkan bersiap melanjutkan operasi militer terhadap Iran setelah perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan.

Dilansir dari iNews.id, perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, selama akhir pekan itu tidak menghasilkan titik temu terkait sejumlah isu krusial, termasuk program nuklir Iran dan keamanan Selat Hormuz.

Meski demikian, kedua negara masih terikat dalam kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang berlaku sejak 7 April waktu Washington DC.

Israel Mulai Siapkan Operasi Militer

Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilaporkan telah memerintahkan persiapan untuk kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran.

Media Israel, Ynet, mengutip sumber pejabat terkait yang menyebut IDF telah memulai langkah-langkah struktural untuk operasi militer baru. Intelijen militer kini tengah menyusun daftar target, dengan fokus utama pada instalasi militer milik Iran.

Sementara itu, Angkatan Udara Israel juga disebut sedang menyiapkan “paket serangan”, meskipun belum ada keputusan final terkait pelaksanaan operasi tersebut.

Negosiasi AS-Iran Buntu

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi dalam perundingan tersebut, menyatakan bahwa negosiasi selama 21 jam tidak membuahkan hasil.

“Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang? Kita belum melihatnya,” ujar Vance.

Ia menegaskan bahwa AS telah mengajukan tawaran yang disebut sebagai “final dan terbaik”, namun ditolak oleh pihak Iran. Menurutnya, Washington juga telah menjelaskan batasan yang tidak bisa ditawar, terutama terkait kepemilikan senjata nuklir.

Iran Tegaskan Program Nuklir untuk Sipil

Di sisi lain, Iran kembali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kepentingan sipil, khususnya energi, dan bukan untuk pengembangan senjata.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut terdapat dua hingga tiga isu utama yang menjadi penghambat kesepakatan.

“Kami mencapai kesepahaman dalam beberapa hal, tetapi terdapat perbedaan pandangan pada isu-isu penting sehingga pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa negosiasi mencakup berbagai topik, mulai dari Selat Hormuz, program nuklir, pencabutan sanksi, hingga penyelesaian konflik kawasan.

Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, dengan potensi eskalasi konflik yang kembali meningkat jika upaya diplomasi tidak menemukan jalan keluar. (*/rnc)