Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Seba, RakyatNTT.ID – Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, S.E., M.M., meresmikan Program Pengembangan Desa Tahun 2025–2026 yang dilaksanakan oleh Habitat for Humanity Indonesia (Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia), di Desa Waduwalla, Kecamatan Sabu Liae.
Peresmian digelar di salah satu rumah penerima manfaat program Rumah Layak Huni (RLH) dan dihadiri sejumlah pihak, di antaranya Senior Manager Operations Habitat for Humanity Indonesia Rudy Nadabdab, Project Manager Site Sabu R. Rendra Arif Budiono Purbaya, jajaran pemerintah daerah, pimpinan dinas teknis, Plt. Camat Sabu Liae, mitra pembangunan, serta masyarakat setempat.
Dalam laporan program, Project Manager Site Sabu, Rendra Arif Budiono Purbaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada peningkatan kualitas hunian, sanitasi, dan akses air bersih, khususnya di wilayah Kecamatan Sabu Liae.
Di Desa Waduwalla, program telah merealisasikan pembangunan tiga unit rumah layak huni, rehabilitasi dua embung, serta pembangunan satu unit MCK dua pintu di SD GMIT Ege. Sementara di Desa Dainao, capaian program meliputi dua unit rumah layak huni, enam unit MCK, serta delapan unit sumur gali.
Tak hanya pembangunan fisik, program ini juga mencakup pendampingan masyarakat melalui pelatihan yang diikuti 120 peserta. Selain itu, dibentuk komite air untuk memastikan pengelolaan dan perawatan embung berjalan berkelanjutan.
Habitat for Humanity Indonesia juga melakukan uji kualitas air di laboratorium kesehatan. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan mangan, sehingga diterapkan sistem filtrasi agar air tetap aman untuk dikonsumsi. Sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan, organisasi tersebut juga akan menyalurkan 1.000 anakan pohon produktif guna memulihkan fungsi lahan.
Dalam sambutannya, Bupati Krisman menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara pemerintah daerah dan Habitat for Humanity Indonesia. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha.
Menurutnya, Desa Dainao dan Waduwalla dipilih sebagai lokasi program karena memiliki kebutuhan mendesak, mengingat Kecamatan Sabu Liae masih tergolong wilayah yang relatif tertinggal.
Bupati juga mengungkapkan tantangan anggaran daerah yang mengalami pemotongan hingga Rp164 miliar. Meski demikian, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap melanjutkan pembangunan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kamar Dagang Indonesia (Kadin) yang berencana menghidupkan kembali sektor rumput laut dan garam.
Selain itu, upaya pemerintah daerah dalam menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat membuahkan hasil berupa bantuan renovasi rumah sebanyak 300 unit dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, 200 unit dari Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan, serta 500 unit dari Kementerian Dalam Negeri.
Dari sektor kelautan, Sabu Raijua juga menerima bantuan revitalisasi tambak garam seluas 45 hektar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang direncanakan segera memasuki masa panen perdana.
“Ini bukti tanggung jawab kita. Tahun ini, 45 hektar tambak garam akan panen perdana, dan kami berencana mengundang menteri terkait untuk melihat langsung,” ujar Krisman.
Menutup sambutannya, Bupati Krisman mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat seluruh bantuan yang telah diberikan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Usai peresmian, Bupati bersama rombongan meninjau salah satu embung yang telah dibangun di wilayah tersebut sebagai bagian dari program pengembangan desa. (*/rnc)
