Jakarta, RakyatNTT.ID Angka kematian akibat kanker di Indonesia masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan serta Globocan 2022 menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.

Tercatat sebanyak 408.661 kasus kanker dengan total kematian mencapai 242.099 jiwa atau sekitar 59,24 persen. Tingginya angka tersebut dinilai tidak sebanding dengan ketersediaan fasilitas layanan kanker di Tanah Air.

Saat ini, jumlah fasilitas pelayanan kanker di Indonesia bahkan kurang dari 80 unit. Kondisi ini sangat timpang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 275 juta jiwa.

Berdasarkan standar International Atomic Energy Agency (IAEA), idealnya tersedia satu mesin radioterapi untuk setiap 250.000 penduduk. Namun, realisasi di Indonesia masih jauh dari standar tersebut.

Selain keterbatasan fasilitas, jumlah dokter spesialis onkologi radiasi juga masih minim. Saat ini hanya terdapat sekitar 135 dokter, dengan mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Ketimpangan ini berdampak pada akses pengobatan kanker yang belum merata, terutama bagi masyarakat di luar wilayah perkotaan dan Pulau Jawa.

Kolaborasi Internasional Tingkatkan Layanan

Untuk menekan angka kematian, berbagai upaya terus dilakukan, termasuk melalui kolaborasi internasional. Salah satunya digagas oleh MRCCC Siloam Semanggi yang menggandeng The University of Texas MD Anderson Cancer Center, salah satu pusat kanker terkemuka di dunia.

Kerja sama ini difokuskan untuk meningkatkan standar layanan kanker di Indonesia, khususnya dalam penanganan kanker payudara dan paru yang mencatat sekitar 104.000 kasus gabungan setiap tahun.

Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, menyatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam transformasi layanan kanker di Indonesia.

“Kami menyadari bahwa layanan kanker di Indonesia masih memiliki banyak aspek yang dapat ditingkatkan, dan kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan dari MD Anderson diharapkan dapat memperluas akses layanan, meningkatkan kualitas perawatan, serta memberikan harapan bagi pasien kanker di Indonesia.

Pendekatan MDT dan Penguatan Data

Salah satu fokus utama dalam kolaborasi ini adalah penerapan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT). Metode ini memungkinkan pasien mendapatkan rencana perawatan yang lebih personal dan terintegrasi.

Dalam pendekatan MDT, berbagai dokter dari lintas disiplin seperti bedah onkologi, onkologi medik, onkologi radiasi, radiologi, hingga patologi akan bekerja secara bersama dalam menentukan terapi terbaik.

Pendekatan ini juga diharapkan mampu menghindari keterlambatan penanganan yang sering menjadi faktor meningkatnya angka kematian.

Selain itu, kerja sama ini turut memperkuat sistem Hospital-Based Cancer Registry (HBCR). Sistem ini memungkinkan pemantauan hasil pengobatan berbasis data secara lebih akurat dan terintegrasi.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan kesenjangan akses layanan kanker di Indonesia dapat diperkecil, sekaligus menghadirkan standar layanan kesehatan bertaraf internasional bagi masyarakat. (*/rnc)