Di sisi lain, eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang berdampak langsung pada negara importir energi seperti Indonesia.

Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) disebut telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI aktif melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen melalui efisiensi belanja negara.

“Secara domestik pemerintah dan Bank Indonesia sudah berhati-hati agar rupiah bisa menguat. Namun tekanan eksternal masih sangat kuat, terutama dari lonjakan harga minyak dunia,” tambah Ibrahim.

Dengan kombinasi faktor global tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih berada dalam tekanan, meski upaya stabilisasi terus dilakukan oleh otoritas terkait. (*/rnc)