Jakarta, RakyatNTT.ID – Program makan bergizi gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) terbukti memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi di daerah. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diketahui rata-rata menerima dana sebesar Rp1 miliar per bulan.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa besarnya dana yang digelontorkan tersebut mampu menciptakan perputaran ekonomi yang masif, terutama di wilayah dengan jumlah SPPG yang besar seperti Jawa Barat.

“Jadi, 1 SPPG rata-rata akan menerima uang Rp1 miliar per bulan. Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp5 triliun per bulan,” ujar Dadan dalam keterangannya, Kamis.

Ia menambahkan, dalam kurun waktu 2,5 bulan pelaksanaan program, total perputaran dana di Jawa Barat saja telah mencapai sekitar Rp11 hingga Rp12 triliun. Menurutnya, angka ini menunjukkan bagaimana program MBG mampu menggerakkan roda ekonomi secara nyata di tingkat lokal.

Penyaluran Dana Langsung ke Daerah

Dadan mengungkapkan bahwa sebagian besar anggaran Badan Gizi Nasional langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan seluruh SPPG di Indonesia.

Sebanyak 93 persen dana disalurkan langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) ke rekening masing-masing SPPG. Saat ini, jumlah SPPG di seluruh Indonesia telah mencapai 25.574 unit.

“Dengan mekanisme ini, terjadi pemerataan distribusi uang ke berbagai daerah di Indonesia,” jelasnya.

Dorong Pemanfaatan Produk Lokal

Program MBG sejak awal dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal. Kebutuhan bahan pangan dalam program ini diharapkan dipenuhi dari hasil produksi daerah setempat.

Hal ini membuka peluang besar bagi petani, pelaku usaha kecil, hingga industri pangan lokal untuk berkembang. Selain itu, program ini juga mendorong terciptanya ekonomi sirkular di daerah.

Dadan menegaskan bahwa saat ini banyak kepala daerah mulai menyadari pentingnya membelanjakan dana yang masuk ke wilayahnya untuk produk lokal.

“Saya harapkan terjadi pergerakan ekonomi sirkular di daerah. Sekarang sudah banyak kepala daerah yang ingin agar dana yang masuk dibelanjakan untuk bahan baku dari daerah itu sendiri,” ujarnya.

Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, keberadaan SPPG juga membuka lapangan kerja baru di tingkat lokal. Mulai dari tenaga operasional hingga tenaga profesional seperti ahli gizi direkrut dari masyarakat setempat.

BGN memastikan setiap SPPG memiliki tenaga ahli gizi yang memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat lokal. Langkah ini dilakukan agar program pemenuhan gizi dapat berjalan optimal sekaligus relevan dengan potensi daerah.

Dengan berbagai dampak positif tersebut, program MBG tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi dan kesejahteraan di berbagai daerah Indonesia. (*/rnc)