Kupang, RakyatNTT.ID – Kehadiran NTT Mart menjadi angin segar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Program yang diinisiasi Pemerintah Provinsi NTT ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan sekaligus membuka akses pasar bagi produk lokal.

Dalam wawancara eksklusif di program Jurnal Nusantara Kompas TV, Jumat (27/3/2026), Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan bahwa NTT Mart lahir sebagai solusi atas tingginya defisit perdagangan daerah yang mencapai Rp51 triliun.

“Defisit perdagangan kita sangat besar, terutama dari sektor kuliner dan produk yang sebenarnya bisa diproduksi di NTT, tetapi masih banyak didatangkan dari luar. Di sisi lain, UMKM kita kesulitan menembus pasar,” ujar Gubernur Melki dari Gerai NTT Mart di Jalan Palapa, Oebobo, Kota Kupang.

NTT Mart pertama kali diluncurkan pada 12 Agustus 2025 bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma dan Komisi IX DPR RI. Program ini merupakan bagian dari visi pembangunan daerah untuk memperkuat ekonomi lokal serta membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Sejak diluncurkan, NTT Mart menunjukkan dampak nyata. Data terbaru mencatat pertumbuhan ekonomi NTT meningkat dari 3,73 persen menjadi 5,14 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan mengalami lonjakan di atas 20 persen, yang turut diiringi penurunan angka kemiskinan.

Di gerai pertama Kota Kupang, dengan modal awal Rp160 juta, perputaran usaha bahkan hampir mencapai dua kali lipat. Kondisi ini mendorong pelaku UMKM dan IKM untuk lebih percaya diri dalam berproduksi karena adanya kepastian pasar.

“Produk-produk lokal kini bisa tampil di etalase yang layak dan membanggakan. Ini juga menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD),” jelas Melki.

Untuk menjaga kualitas, pemerintah menerapkan standar yang relatif fleksibel. Produk kuliner minimal harus lolos uji Dinas Kesehatan, sementara produk lain seperti wastra, kriya, dan fashion harus melalui verifikasi dinas terkait.

Pemerintah juga menggandeng perbankan, termasuk penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR), guna memperkuat pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Dalam pengembangannya, Pemprov NTT menerapkan strategi “Tiga Kaki”, yakni One Village One Product, One School One Product, dan One Community One Product. Program ini mendorong setiap desa, sekolah, hingga komunitas untuk menghasilkan produk unggulan masing-masing.

“Sekarang bahkan sekolah dan kampus mulai bergerak. Ada konsep One Campus One Product yang sedang disiapkan,” ungkap Melki.

Melihat keberhasilan di 22 kabupaten/kota, NTT Mart kini bersiap melakukan ekspansi digital melalui platform e-commerce bekerja sama dengan Bank NTT. Permintaan pembukaan gerai juga datang dari diaspora NTT di berbagai kota besar hingga luar negeri seperti Malaysia, Taiwan, dan Eropa.

Namun, Gubernur Melki menegaskan bahwa penguatan di dalam daerah tetap menjadi prioritas sebelum ekspansi lebih luas dilakukan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Zet Sony Libing, turut mengajak masyarakat untuk mendukung gerakan ini dengan berbelanja produk lokal.

“Berbelanja di NTT Mart berarti membantu UMKM dan industri kecil berkembang,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari masyarakat. Salah satu pengunjung, Ifan, mengaku bangga dengan kualitas produk yang ditampilkan.

“Kemasannya bagus, produknya khas daerah, dan ini cara kita membantu UMKM agar daerah ikut maju,” katanya.

Dengan berbagai capaian dan inovasi tersebut, NTT Mart diharapkan terus menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus model pengembangan UMKM yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. (*/rnc)