Kupang, RakyatNTT.ID Universitas Nusa Cendana (Undana) menawarkan solusi konkret untuk menekan angka kredit macet atau non-performing loan (NPL) pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Undana siap mendampingi pelaku UMKM dalam memperkuat literasi keuangan dan manajerial usaha agar pemanfaatan KUR lebih produktif dan berkelanjutan.

Gagasan strategis ini disampaikan oleh perwakilan Humas Undana, Ollien Manggol, S.KM., MPA., CRA., dalam Diskusi Publik memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 PWI di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (21/2/2026).

Undana jadi Jembatan Perbankan dan UMKM

Dalam forum yang dihadiri jajaran Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta direksi perbankan, Undana menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pengamat akademis, tetapi juga sebagai penggerak solusi ekonomi daerah.

Kampus diposisikan sebagai “jembatan” antara target penyaluran dana perbankan dengan kapasitas riil pelaku usaha di lapangan. Dengan demikian, dana KUR tidak sekadar tersalurkan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak ekonomi.

“Kami ingin memastikan KUR tidak hanya tersalurkan secara administratif, tetapi benar-benar berdampak nyata dan aman, baik bagi pelaku usaha maupun bagi pihak perbankan itu sendiri,” ujar Ollien Manggol.

Menurutnya, peningkatan literasi keuangan menjadi kunci utama dalam menekan potensi kredit macet di NTT.

Dua Pilar Strategis: Pendampingan dan Riset

Dalam diskusi tersebut, Undana menawarkan dua pilar sinergi utama untuk memperkuat ekosistem KUR di NTT.

1. Pendampingan Intensif UMKM

Mahasiswa magang dan peserta KKN Tematik dapat difokuskan untuk mendampingi pelaku UMKM penerima KUR, terutama dalam hal pencatatan keuangan, perencanaan usaha, dan tata kelola bisnis.

Pendampingan ini bertujuan agar dana KUR benar-benar digunakan untuk aktivitas produktif, bukan konsumsi non-produktif yang berisiko memicu kredit macet.

2. Pemetaan Data Unbankable

Undana juga mendorong perbankan untuk mendukung riset kampus dalam memetakan potensi ekonomi di wilayah terpencil yang selama ini belum terjangkau layanan keuangan formal (unbankable).

Sektor seperti pengrajin tenun, nelayan, dan komoditas kelautan dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi, namun belum sepenuhnya tersentuh pembiayaan perbankan.

Dengan dukungan data akademis yang komprehensif, perbankan dapat menyalurkan KUR secara lebih tepat sasaran dan berkeadilan.

Riset jadi Fondasi Inklusi Keuangan

Undana menilai bahwa riset berbasis data lokal menjadi fondasi penting dalam memperkuat inklusi keuangan di NTT. Pemetaan klaster UMKM yang akurat akan membantu perbankan tidak hanya mengejar target kuota tahunan, tetapi juga memperhitungkan daya ungkit ekonomi jangka panjang.

Diskusi publik yang menghadirkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena sebagai pembicara utama itu menjadi momentum strategis bagi penguatan kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan akademisi.

Melalui sinergi ini, Undana optimistis penyaluran KUR di NTT dapat lebih sehat, produktif, serta berkontribusi pada kedaulatan ekonomi di bumi Flobamora. (*/rnc)