Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Selain geopolitik, sentimen dari ekonomi Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Data pemutusan hubungan kerja (PHK) versi Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas tenaga kerja pada Januari dengan laju tercepat sejak krisis finansial global 2009.
Data lain juga mencatat klaim pengangguran mingguan lebih tinggi dari perkiraan, sementara jumlah lowongan kerja Desember berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini menandakan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin.
Situasi tersebut membuka peluang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga, yang sempat menekan dolar AS. Namun, ketidakpastian kebijakan moneter masih membayangi, terutama terkait arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang dipandang pasar cenderung kurang dovish.
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan pada level Baa2 atau kategori investment grade.
Menurut Moody’s, perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan, tantangan tata kelola, serta risiko yang dapat memengaruhi kepercayaan investor. Jika berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia yang selama ini terbangun.
