Ia juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan skema beasiswa, selain dukungan dari Kemdiktisaintek dan Kementerian Kesehatan.

“Kalau bisa, beasiswa daerah juga dialokasikan untuk pembiayaan dokter spesialis yang ingin bersekolah di NTT,” tambahnya.

Undana Jaga UKT Tetap Terjangkau

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, mengakui bahwa Biaya Kuliah Tunggal (BKT) untuk pendidikan dokter, termasuk spesialis, memang tinggi. Namun pihaknya berkomitmen menjaga Uang Kuliah Tunggal (UKT) tetap terjangkau.

“Misalnya untuk menghasilkan satu sarjana per semester dibutuhkan sekitar Rp10 juta, sementara UKT di Undana untuk Pendidikan Dokter di angka Rp8 jutaan. Artinya, masih di kisaran 80 persen dari BKT,” jelas Jefri.

Ia berharap dalam empat tahun ke depan tidak akan ada kenaikan UKT. Undana juga terus meningkatkan pendapatan non-akademik serta memperluas akses beasiswa agar mahasiswa tidak terbebani.

“Kami berharap dukungan gubernur dan para bupati yang selama ini memberi beasiswa dapat mengalokasikan anggaran juga untuk dokter spesialis,” ujarnya.

Sinergi Undana, Unram, dan Unud

Unduk diketahui, dua prodi spesialis yang dibuka di Undana, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif dan Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan).