Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dalam kajian kesejahteraan anak (child well-being), kemiskinan dipahami secara multidimensional. Ia tidak hanya merujuk pada ketiadaan sumber daya ekonomi, tetapi juga pada keterbatasan dukungan emosional, relasi sosial, dan rasa aman yang menopang perkembangan anak (UNICEF, 2019). Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan struktural sering kali menghadapi tekanan psikologis berlapis yang tidak tercermin dalam data bantuan sosial. Mereka bukan hanya kekurangan barang, tetapi juga kehilangan ruang untuk didengar dan dipahami.
Surat perpisahan yang ditinggalkan YBR memperlihatkan bahasa yang tidak lazim untuk usia kanak-kanak: permohonan agar ibu “merelakan” kepergiannya, pesan agar tidak menangis, serta keinginan untuk menghilang agar tidak merepotkan.
Bahasa semacam ini menunjukkan adanya internalisasi rasa bersalah, yaitu kondisi ketika anak menempatkan dirinya sebagai sumber masalah, bukan sebagai subjek yang berhak ditolong.
Dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menjelaskan bahwa anak usia sekolah berada pada tahap industry versus inferiority, di mana pembentukan harga diri sangat dipengaruhi oleh pengalaman merasa mampu, diterima, dan berguna (Erikson, 1963). Ketika anak terus-menerus merasa gagal memenuhi ekspektasi lingkungan, perasaan tidak berharga dapat berkembang secara ekstrem dan berbahaya.
