Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ba’a, RakyatNTT.ID – Banjir sawah Rote Ndao melanda dua kompleks persawahan di Desa Nusakdale, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Jumat (20/2/2026) sore.
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Kali Ingupapan meluap dan menerjang lahan pertanian warga.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.10 WITA saat debit air meningkat drastis hingga melampaui tembok penahan dan masuk ke area persawahan Fuakdale dan Ingupapan.
Seorang warga merekam detik-detik banjir dalam video berdurasi 30 detik yang kemudian beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat arus air deras merangsek melewati tembok penahan dan merendam tanaman padi yang siap panen.
“Izin melaporkan bapak desa, ini bencana (banjir) sudah naik di atas sawah Fuakdale,” ujar seorang warga dalam video tersebut. Ia juga meminta perhatian pemerintah daerah maupun pusat untuk membangun tembok penahan yang lebih memadai. “Kasihan masyarakat punya padi,” tambahnya.
Sembilan Sawah Terdampak
Ketua Kompleks Persawahan (Manemok) Fuakdale, Oktofianus Malelak, kepada RakyatNTT.ID, Sabtu (21/2/2026), menyebutkan sedikitnya lima bidang sawah di Fuakdale terdampak banjir.
“Di Fuakdale ada lima sawah yang terdampak,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Namahena di kompleks persawahan Ingupapan, Arifon Malelak, membenarkan bahwa banjir terjadi akibat luapan Kali Ingupapan yang tidak mampu ditahan oleh tanggul yang ada.
“Tembok penahan terlalu rendah sehingga banjir meluap masuk dalam sawah. Tembok penahan yang ada sekarang sepanjang 220 meter, dibangun dari Dana Desa Nusakdale tahun 2017. Di lokasi Ingupapan kami cek tadi ada empat sawah yang terdampak,” jelas Arifon.
Dengan demikian, total sementara terdapat sembilan bidang sawah yang terdampak di dua lokasi tersebut.
Usulan Pembangunan Tembok Penahan
Arifon mengungkapkan, usulan pembangunan tembok penahan sepanjang 1.500 meter sebenarnya sudah diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun hingga kini belum terealisasi.
Menurutnya, pembangunan tanggul yang lebih tinggi sekitar 2-2,5 meter dan lebih panjang sangat mendesak karena menyangkut ketahanan pangan serta penghasilan petani.
“Semoga diprioritaskan untuk segera dibangun karena ini berdampak pada masalah perut dan dompet masyarakat,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, luas total lahan terdampak dan estimasi kerugian belum dapat dipastikan karena masih dalam proses pendataan oleh ketua kompleks untuk dilaporkan kepada pemerintah desa.
Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret guna mencegah banjir sawah Rote Ndao kembali terjadi di musim hujan berikutnya. (rnc12)
