Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Washington, RakyatNTT.ID – Kanker masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia dan kerap menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi pengidapnya.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan terus berupaya menemukan terapi yang lebih efektif untuk membasmi sel kanker. Kini, harapan baru mulai muncul dari laboratorium Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Setelah lebih dari 50 tahun menjadi misteri ilmiah, para peneliti MIT berhasil mensintesis verticillin A, molekul kompleks yang berasal dari jamur dan telah lama diyakini memiliki potensi antikanker. Lebih jauh, versi modifikasi molekul ini menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji laboratorium terhadap kanker otak agresif pada anak, khususnya diffuse midline glioma (DMG), salah satu tumor otak paling mematikan dengan pilihan terapi yang sangat terbatas.
Verticillin A pertama kali diidentifikasi pada 1970 sebagai senyawa pertahanan alami jamur. Sejak saat itu, molekul ini menarik perhatian dunia ilmiah karena aktivitas antikanker dan antimikrobanya. Namun, struktur kimianya yang sangat rumit membuat senyawa ini nyaris mustahil diproduksi secara sintetis—hingga terobosan terbaru ini.
“Sekarang kami tidak hanya dapat mengakses molekul ini untuk pertama kalinya setelah lebih dari 50 tahun, tetapi juga mampu menciptakan berbagai variannya untuk penelitian lanjutan,” kata Mohammad Movassaghi, profesor kimia MIT sekaligus penulis senior studi ini, dikutip dari ScienceDaily, Jumat (9/1/2026).
Tantangan utama dalam sintesis verticillin A terletak pada arsitektur molekulnya yang sangat kompleks. Senyawa ini memiliki 10 cincin kimia dan delapan pusat stereogenik yang harus tersusun dalam orientasi ruang sangat presisi. Menariknya, verticillin A hanya berbeda dua atom oksigen dari molekul serupa yang pernah disintesis MIT pada 2009, namun perbedaan kecil tersebut justru membuat proses sintesis menjadi jauh lebih sulit.
“Kedua atom oksigen ini membuat molekul menjadi jauh lebih rapuh dan sensitif selama reaksi kimia,” jelas Movassaghi.
Setelah berbagai pendekatan lama gagal, tim MIT merombak total strategi sintesis dengan menyusun ulang urutan pembentukan ikatan kimia secara mendasar.
Proses ini dimulai dari turunan asam amino beta-hidroksitriptofan dan dibangun secara bertahap dengan kontrol stereokimia yang ketat. Secara keseluruhan, sintesis verticillin A berhasil diselesaikan dalam 16 tahap—sebuah pencapaian besar dalam kimia sintesis modern.
Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan berbagai turunan verticillin A. Tim peneliti dari Dana-Farber Cancer Institute kemudian menguji senyawa-senyawa tersebut pada sel kanker manusia. Hasil paling signifikan terlihat pada sel DMG dengan kadar tinggi protein EZHIP, yang berperan dalam regulasi metilasi DNA.
Beberapa turunan verticillin A terbukti mampu meningkatkan metilasi DNA secara signifikan dan memicu kematian sel kanker terprogram. “Produk alami ini sendiri bukan yang paling kuat, tetapi kemampuan untuk mensintesisnya memungkinkan kami menciptakan turunan yang lebih stabil dan lebih efektif,” ujar Movassaghi.
Jun Qi, profesor madya di Dana-Farber dan Harvard Medical School, menekankan bahwa identifikasi target molekuler ini sangat penting bagi pengembangan terapi kanker generasi baru yang lebih presisi dan terarah.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa verticillin A belum siap digunakan secara klinis. Pengujian lanjutan, termasuk pada model hewan, masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas senyawa ini sebelum melangkah ke uji klinis manusia.
“Senyawa alami telah lama menjadi sumber penting penemuan obat. Kami akan mengevaluasi sepenuhnya potensi terapeutik molekul ini dengan mengintegrasikan keahlian di bidang kimia, biologi kanker, dan perawatan pasien,” ujar Qi.
Penelitian ini didukung pendanaan dari National Institute of General Medical Sciences, Ependymoma Research Foundation, serta Curing Kids Cancer Foundation. (*/rnc)
