Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tekanan terhadap dolar AS dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan telah mengamankan akses total dan permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO.
Namun, kesepakatan tersebut memicu kontroversi karena Denmark menegaskan kedaulatannya atas wilayah tersebut tidak dapat dinegosiasikan. Situasi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas politik global.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari The Fed. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin pada paruh kedua tahun 2026, yang turut menekan daya tarik dolar AS.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama setelah kurs sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai bahwa stabilisasi rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi di pasar valuta asing, tetapi juga pada kemampuan BI dalam mengelola ekspektasi investor.
