Jakarta, RakyatNTT.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan pagi ini, Senin (19/1/2026). Indeks dibuka naik 23,29 poin atau 0,26 persen ke level 9.098,70.

Pada awal perdagangan, tercatat 293 saham menguat, 65 saham melemah, sementara sisanya bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp543,79 miliar dengan volume 718,13 juta saham yang diperdagangkan dalam 89.618 kali transaksi.

Seiring penguatan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut meningkat dan mendekati Rp15.000 triliun, atau nyaris setara US$1 triliun.

Pekan Krusial Pasar Keuangan

Pekan ini dinilai menjadi periode krusial bagi arah pasar keuangan global dan domestik. Investor dihadapkan pada agenda rilis data ekonomi berdampak tinggi (high impact news) dari tiga kekuatan ekonomi utama dunia, yakni Amerika Serikat, China, dan Jepang, serta keputusan kebijakan moneter dari dalam negeri.

Dari Indonesia, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa–Rabu pekan ini. Di tengah ketidakpastian global—perlambatan ekonomi China dan ketahanan ekonomi Amerika Serikat—Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.

Meski inflasi domestik relatif terkendali di 2,92 persen, Bank Indonesia dinilai tetap perlu menjaga daya tarik aset keuangan berbasis rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (interest rate spread) dengan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menjadi faktor penting yang harus dijaga.

Jika BI memangkas suku bunga terlalu cepat saat dolar AS masih kuat, rupiah berisiko mengalami tekanan lanjutan. Apalagi, nilai tukar rupiah saat ini berada di area psikologis menembus Rp17.000 per dolar AS.

Divergensi Ekonomi Global

Pasar juga tengah mencerna divergensi ekonomi global yang kian nyata. Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah pengetatan kebijakan moneter, sementara China masih bergulat dengan risiko perlambatan struktural. Di sisi lain, Jepang mulai keluar dari era suku bunga rendah, sedangkan Indonesia memilih langkah pragmatis demi menjaga stabilitas makroekonomi.

Bursa Asia Melemah

Sementara itu, mayoritas pasar saham Asia-Pasifik melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026). Sentimen negatif dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, serta sikap wait and see investor terhadap rilis data ekonomi China.

Akhir pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin Eropa saling melontarkan pernyataan keras mengenai wilayah Arktik tersebut. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa serta menuntut kendali atas Greenland yang merupakan bagian dari Denmark.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong tercatat di level 26.640, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir di 26.844,96, mengindikasikan potensi pelemahan pasar saham Hong Kong di awal pekan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,85 persen, menjadi yang terburuk di kawasan Asia, sementara Topix melemah 0,46 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak ke 2,218 persen, tertinggi sejak 1999.

Berbeda arah, pasar saham Korea Selatan bergerak positif. Indeks Kospi naik 0,18 persen, sedangkan Kosdaq terkoreksi tipis 0,15 persen.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka melemah 0,19 persen, sejalan dengan sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. (*/rnc)