Meski inflasi domestik relatif terkendali di 2,92 persen, Bank Indonesia dinilai tetap perlu menjaga daya tarik aset keuangan berbasis rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (interest rate spread) dengan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menjadi faktor penting yang harus dijaga.

Jika BI memangkas suku bunga terlalu cepat saat dolar AS masih kuat, rupiah berisiko mengalami tekanan lanjutan. Apalagi, nilai tukar rupiah saat ini berada di area psikologis menembus Rp17.000 per dolar AS.

Divergensi Ekonomi Global

Pasar juga tengah mencerna divergensi ekonomi global yang kian nyata. Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah pengetatan kebijakan moneter, sementara China masih bergulat dengan risiko perlambatan struktural. Di sisi lain, Jepang mulai keluar dari era suku bunga rendah, sedangkan Indonesia memilih langkah pragmatis demi menjaga stabilitas makroekonomi.

Bursa Asia Melemah

Sementara itu, mayoritas pasar saham Asia-Pasifik melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026). Sentimen negatif dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, serta sikap wait and see investor terhadap rilis data ekonomi China.