Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Situasi ini mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika korban jiwa akibat demonstrasi terus bertambah. Sejumlah lembaga hak asasi manusia internasional melaporkan ratusan orang tewas selama aksi protes yang telah berlangsung lebih dari dua pekan.
Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, menyatakan pihaknya meyakini banyak demonstran tewas, meski jumlah pastinya belum dapat diverifikasi.
“Kami tetap berkomunikasi dengan rekan-rekan kami melalui sarana elektronik. Kami tidak memiliki angka pasti yang dapat diverifikasi, tetapi jelas bahwa sejumlah warga sipil telah tewas,” ujar Dujarric.
Sementara itu, seorang sumber pejabat militer di pasukan keamanan Iran mengungkapkan bahwa lebih dari 500 orang tewas dalam unjuk rasa, termasuk 110 polisi dan anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Demonstrasi di Iran mulai pecah sejak 28 Desember 2025, dipicu kekhawatiran publik terhadap melonjaknya inflasi akibat melemahnya nilai tukar rial Iran. Fluktuasi mata uang memicu kenaikan harga grosir dan eceran, yang berujung pada pengunduran diri Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin.
Sejak 8 Januari 2026, intensitas demonstrasi meningkat tajam menyusul seruan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran juga memblokir akses internet di sejumlah wilayah. (*/rnc)
