Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kesadaran diri itu penting, dan mencakup beberapa hal: kemampuan memahami diri, emosi, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai dan motivasi pribadi serta dampak bagi orang lain, seperti yang diungkap Daniel Goleman (1995) dalam bukunya Emotional Intelegence: Why It can Matter More Than IQ. Guru yang sadar diri akan menjadi model bagi siswa. Guru tersebut dapat menjadi panutan bagi anak didik, dan selalu merefleksi pengalaman untuk dialog autentik dengan siswa, sebagaimana ditekan oleh Paulo Freire.
Ini bermakna bahwa guru perlu melakukan refleksi, belajar dari dan tentang diri sendiri, dan terlibat dialog autentik dengan siswa, agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang sesuai karakter anak didik.
Kedua, membangun keteladanan hidup. Kekhasan guru adalah mendidik melalui contoh, bukan hanya kata-kata. Anak-anak belajar dengan merekam, melihat dan meniru. Dan, oleh karena itu, keteladanan guru seperti disiplin waktu dan konsisten dalam tindakan seperti ditekankan Freire akan menuntun siswa menemukan minat, bakat dan passion mereka.
Ketiga, membangun kebiasaan (habituasi) positif. Mengutip pepatah Tiongkok, “perjalanan seribu mil di mulai dengan satu langkah”. Kebiasan positif adalah fondasi masa depan siswa. Artinya, kebiasaan awal menjadi dasar untuk membentuk masa depan anak didik. Karena itu, Disiplin (seperti mengajar dan belajar tepat waktu) harus dimulai dari guru. Guru perlu melibatkan siswa merencanakan tujuan, menggunakan jurnal harian untuk refleksi, dan memberi umpan balik berupa pujian yang memberdayakan, karena setiap anak butuh penghargaan. Salah satu bentuk penghargaan adalah memberi pujian yang tulus.
