“Tapi saya tidak ingin berhenti di alat bantu saja. Saya ingin kita beri pelatihan agar mereka bisa berdaya dan mandiri,” tambahnya.

Wali Kota juga menyoroti langkah Pemkot Kupang dalam menerapkan kebijakan ramah disabilitas, di antaranya penetapan Kelurahan Naikoten I sebagai Kelurahan Disabilitas, yang dilengkapi akses ram kursi roda dan layanan pelanggan khusus bagi warga difabel.

Ia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan dua peraturan baru terkait pemenuhan hak serta bantuan hukum bagi penyandang disabilitas, serta rencana pembangunan Pusat Layanan Inklusi di lingkungan GMIT Paulus Kupang pada tahun mendatang.

Iklan

Pesan Inspiratif: Inklusi Dimulai dari Hati

Menutup sambutannya, dr. Christian Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi dalam semangat kebersamaan. Ia mengutip pesan Helen Keller, tokoh disabilitas dunia, bahwa hal terindah tidak selalu dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan dengan hati.

“Mari kita terus bergerak bersama dengan hati penuh harapan untuk mewujudkan Kota Kupang yang benar-benar ramah dan inklusif bagi semua,” tutupnya.

Ketua Sinode GMIT: Gereja Harus jadi Rumah bagi Semua

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Samuel Benyamin Pandie, menegaskan pentingnya gereja melihat isu disabilitas dengan cara pandang Kristus — penuh kasih dan empati.