Seba, RakyatNTT.ID Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si, secara resmi membuka Rapat Sinode Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia Nusa Tenggara Timur (GGRI-NTT) yang berlangsung di GGRI Taka, Desa Raenyale, Kecamatan Sabu Barat, Selasa (21/10/2025).

Kegiatan rohani ini dihadiri oleh Ketua Deputat Penghubung Dalam Negeri dan Luar Negeri, para pendeta, penasehat YASTRI, pimpinan YAKERSUM, LITINDO, anggota Polres Sabu Raijua, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Sabu Raijua, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta Pj. Kepala Desa Raenyale.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Thobias Uly menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta sinode yang hadir di bumi Rai Hawu Rai Mea. Ia menegaskan bahwa kehadiran para hamba Tuhan dan utusan jemaat di Sabu Raijua merupakan sebuah kehormatan besar sekaligus berkat bagi daerah tersebut.

“Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Sabu Raijua, saya mengucapkan selamat datang dan selamat mengikuti Rapat Sinode. Ini bukan sekadar pertemuan rutin gerejawi, tetapi momentum rohani untuk memperbarui semangat pelayanan dan meneguhkan arah gereja agar tetap menjadi terang dan garam di tengah dunia,” ujar Wakil Bupati.

Gereja sebagai Mitra Pembangunan Daerah

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Thobias Uly menegaskan bahwa gereja memiliki peran strategis dalam memperkuat kehidupan moral dan sosial masyarakat. Ia mengajak seluruh peserta sinode untuk menjadikan forum ini sebagai ruang pembaruan rohani dan refleksi pelayanan, agar gereja terus hadir membawa kabar baik di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Dunia terus berubah, nilai-nilai kehidupan diuji, dan iman sering diperhadapkan pada realitas sosial yang kompleks. Karena itu, sinode ini harus menjadi tempat bagi gereja untuk memperkuat spiritualitas pelayanan dan meneguhkan komitmen melayani dengan kasih dan ketulusan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Thobias mengapresiasi GGRI-NTT sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung berbagai program pembangunan, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, serta pembinaan mental dan spiritual masyarakat.

“Kami percaya bahwa sinergi antara gereja dan pemerintah akan melahirkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Sebab pembangunan fisik tidak akan bermakna tanpa fondasi moral yang kuat,” tambahnya.

Dorongan untuk Pelestarian Lingkungan dan Efisiensi Anggaran

Selain berbicara tentang peran gereja, Wakil Bupati juga menekankan pentingnya pelestarian lingkungan hidup melalui penanaman pohon dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Ia menilai langkah sederhana seperti menanam pohon merupakan investasi besar untuk generasi mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, ia memaparkan sejumlah program prioritas pemerintah daerah, termasuk bantuan kawat duri untuk masyarakat dalam mendukung pemanfaatan lahan produktif.

“Masyarakat yang membutuhkan bisa mengajukan proposal resmi agar bantuan tersebut tepat sasaran,” jelasnya.

Terkait pembangunan infrastruktur, Thobias menjelaskan bahwa Pemda Sabu Raijua melakukan efisiensi dan optimalisasi anggaran menyusul adanya pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat. Melalui pemangkasan anggaran perjalanan dinas dan kegiatan nonprioritas, pemerintah berhasil menghemat Rp21 miliar yang kemudian dialokasikan untuk pembangunan jalan dan sarana umum.

Menutup dengan Pesan Rohani dan Harapan

Menutup sambutannya, Wakil Bupati Thobias Uly mengajak seluruh peserta sinode untuk menjadikan kegiatan ini sebagai ruang doa dan refleksi bersama.

“Kiranya setiap keputusan dan pembahasan dalam Rapat Sinode GGRI NTT ini menjadi alat di tangan Tuhan untuk menghadirkan berkat bagi banyak orang. Semoga sinode ini mempererat persaudaraan gerejawi serta memperkuat sinergi antara gereja dan pemerintah demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua,” pungkasnya. (*/pkp/rnc)