Juga karena campur tangan pemerintah via, misalnya, kebijakan bantuan langsung tunai (BLT). Walaupun tidak cukup, dalam banyak hal, BLT itu, sejatinya, bisa membantu mengatasi persoalan yang sangat mendesak, yang berkaitan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan pada level dasar.

Selain BLT, kita tahu, peningkatan jumlah penduduk yang sejahtera atau yang berpindah dari kemiskinan kepada keberkecukupan, termasuk, bahkan, pada level kaya (raya), adalah pendidikan. Pendidikan di negeri ini, terlepas dari berbagai kritik terhadapnya, telah cukup berhasil mengubah Indonesia dari negeri miskin, pada beberapa dekade awal kemerdekaannya, kepada kelompok negara dengan tingkat penghasilan menengah atas (upper middle income countries).

Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia 5.027 dolar AS. Itu setara dengan 17.612 dolar AS, dilihat dari paritas daya beli atau purchasing power parity, menurut data IMF per April 2025.

Artinya, kalau mau hidup lebih baik, seseorang harus menempuh pendidikan secara lebih serius. Sebab tanpa pendidikan, dia akan terus berada dalam genggaman kemiskinan.

Namun, pendidikan, dalam banyak hal, tidak selalu terbuka pintunya bagi yang miskin. Ingin hati mereka keluar dari kemiskinan via jalan pendidikan, tetapi, apa daya, biaya pendidikan mahamahal. Tak terjangkau. Apalagi untuk, misalnya, pendidikan kedokteran. Saat ini, uang kuliahnya minimal 20 juta IDR per semester. Dengan demikian, yang kantongnya tipis tidak akan pernah bisa kuliah di fakultas kedokteran. Itu sebabnya, banyak orang bilang, orang miskin tidak boleh jadi dokter.