Kupang, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menutup sementara arus lalu lintas ternak babi masuk ke wilayahnya. Kebijakan yang bertujuan untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran penyakit ASF (African Swine Fever) itu, tertuang dalam Surat Edaran Bupati Sumba Timur Nomor: Disnak.524.35/1862/x/2025.

 

Kebijakan ini rupanya berimbas pada bisnis jual beli ternak babi yang dijalani sejumlah saudagar. Terlebih para saudagar dari Pulau Sumba yang sudah terlanjur membeli ternak babi di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

Senin (27/10/2025) siang tadi, sejumlah saudagar babi dari Kabupaten Sumba Barat Daya berusaha mendatangi Kantor Gubernur NTT untuk mencarikan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Namun upaya untuk bertemu Gubernur NTT dan pejabat terkait lainnya, belum membuahkan hasil. Kini, mereka dihantui rasa cemas akan kerugian yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Kepada wartawan, Marthen Bili, salah satu saudagar babi, mengatakan bahwa dia bersama rekan-rekannya sudah terlanjur membeli babi dalam jumlah banyak. Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kesehatan ternak babi, juga sudah diurus dan hasilnya sudah keluar.

“Hasil lab merupakan syarat agar ternak babi bisa dibawa dengan kapal ke daerah tujuan,” katanya.

Marthen Bili menambahkan, babi-babi yang sudah dibeli dan diperiksa, rencananya akan dibawa menggunakan kapal ASDP (Ferry) pada hari ini. Namun gagal diberangkatkan, karena ada surat edaran dari Bupati Sumba Timur soal penutupan sementara akses keluar masuk ternak babi.

“Hari ini jadwal keberangkatan kapal dengan lintasan Kupang-Aimere-Waingapu. Tiba di Waingapu, kami lanjut jalan darat ke daerah tujuan di Sumba Barat Daya. Tapi tiba-tiba Sumba Timur tutup dan tidak mau terima babi masuk di sana,” terangnya.

Mewakili para saudagar babi dari Pulau Sumba, Marthen Bili berharap ada kebijakan dari pemerintah yang melonggarkan mereka untuk bisa membawa ternak babi, yang sudah terlanjur dibeli.

“Kami sudah beli babi sebelum edaran keluar. Jadi kami minta solusi. Kalau bisa babi yang sudah kami beli ini dan dinyatakan sehat berdasarkan hasil lab, bisa diangkut pada jadwal kapal berikut. Selanjutnya kami hentikan sementara bisnis ini,” pintanya.

Saudagar lainnya, Paulus Mone, juga menyampaikan harapan senada. Menurutnya, jika ternak babi yang sudah dibeli tidak lekas dikirim, maka sudah tentu mereka akan mengalami kerugian yang tidak sedikit. Sebab ada pengeluaran untuk sewa kandang, beli pakan, dan kebutuhan lainnya yang terus membengkak.

“Untuk pakan saja, satu saudagar, harus beli pakan ternak minimal satu sampai dua karung sehari untuk kasih makan puluhan babi. Jumlah saudagar sekitar 20-an orang. Jadi total kerugian seluruh saudagar bisa sampai ratusan juta dalam seminggu. Jumlahnya pasti terus bertambah kalau makin surat edaran belum dicabut. Jadi kami mohon ada solusi,” pungkasnya. (rnc)