Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin pagi. Rupiah terkoreksi 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.634 per USD, sebelum bergerak terbatas di sekitar Rp16.615 per USD.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif Rupiah selama tiga hari terakhir. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai faktor utama tekanan Rupiah berasal dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang dinilai tidak mencerminkan sikap profesional seorang menteri.
“Pernyataan Menkeu Purbaya berbau politis dan membingungkan pasar, berbeda dengan pendekatan Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, alih-alih memberikan komentar yang bernuansa politik, Purbaya seharusnya fokus pada kinerja agar tidak menimbulkan ketidakpastian. Menurutnya, kondisi ini membuat investor asing kembali menarik modalnya dari Indonesia.
Selain faktor domestik, pasar juga diguncang isu wacana perubahan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bantuan tunai setelah muncul kasus keracunan di beberapa daerah.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian global meningkat akibat konflik Rusia-Ukraina yang berpotensi meluas ke konfrontasi antara Rusia dan NATO. Pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai penerusnya yang seorang veteran perang semakin memanaskan situasi.
Tak hanya itu, kasus hukum mantan Presiden AS Donald Trump yang tengah mengajukan banding terhadap Tina Chok juga disebut berpengaruh pada sentimen pasar.
Melihat tren yang ada, Ibrahim memproyeksikan Rupiah masih berpotensi tertekan.
“Perkiraan Sri Mulyani dalam APBN 2025 bahwa Rupiah bisa di Rp16.900 kemungkinan besar akan terjadi,” pungkasnya. (*/rnc)
