KETIKA derap kaki kuda mengguncang tanah dan tabuhan gong berpadu dengan desau angin di ladang kering Rote Ndao, saat itulah masyarakat menyatu dalam tarian spiritual yang disebut HUS. Bagi sebagian orang luar, HUS mungkin tampak seperti sekadar atraksi berkuda, hiburan rakyat, atau festival pariwisata. Namun bagi masyarakat Rote Ndao, terutama di eks Nusak Dengka, HUS adalah manifestasi keimanan dan ketaatan dalam bentuk budaya sebuah dialog sakral antara manusia, leluhur, dan Sang Pemberi Berkat.

Lebih dari Sekadar Festival

HUS bukan hanya pertunjukan; ia adalah ritual. Dalam bahasa lokal, “HUS Nde’o” dapat dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Yang Mahakuasa atas hasil panen, kesehatan, dan kehidupan. Prosesi HUS diawali dengan pra hus (persiapan ritual) dan puncaknya dikenal sebagai hus yang biasanya jatuh pada bulan Juli. Ini bukan agenda spontan, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga dengan ketekunan dan kesetiaan lintas generasi.

HUS dilakukan oleh masyarakat adat di berbagai eks nusak (kerajaan adat lama) seperti Dengka, Thie, Baa, dan Korbafo. Namun, HUS di eks Nusak Dengka yang dikenal dengan sebutan HUS Nde’o telah menjadi primadona karena kontinuitas pelaksanaannya yang paling konsisten setiap tahun, lengkap dengan seluruh elemen budayanya.

Simbolisme Spiritual dan Sosial

Dalam setiap HUS, kuda dihias secara khusus, lengkap dengan pernak-pernik tenun ikat khas Rote, dan penunggangnya mengenakan pakaian adat yang berwibawa. Mereka bukan sekadar atlet, tetapi pemikul nilai-nilai luhur dan penjaga kehormatan leluhur. Penampilan mereka membawa pesan sakral, karena simbol-simbol yang digunakan dipercaya memiliki kekuatan spiritual.
Selain prosesi berkuda, HUS juga menampilkan Libutu atau Silat Kampung, yang bukan hanya pertunjukan bela diri tetapi juga refleksi tentang ketangkasan, kedewasaan, dan pengendalian diri.

Musik gong dan sasando menambah nuansa magis, menyatukan suara alam dengan lantunan rohani. Tarian Foti menggambarkan sukacita, harmoni, dan solidaritas komunitas.

Di luar arena, masyarakat dengan sukarela membuka rumah-rumah mereka bagi siapa pun yang datang. Makanan dan minuman tradisional disajikan tanpa dipungut biaya. Tidak ada tiket, tidak ada meja VIP semuanya setara dalam ruang budaya yang egaliter. Spiritualitas dalam HUS tak hanya mengalir dalam doa-doa adat, tetapi juga dalam laku keramahan yang melampaui batas suku, agama, dan status sosial.

Warisan dan Tantangan

Warisan ini kini dihidupkan kembali melalui Festival HUS Nde’o Kabupaten Rote Ndao 2025 yang akan berlangsung di Desa Tasilo, Kecamatan Loaholu. Dengan dukungan pemerintah melalui program ROCKET (Rote Kreatif dan Terang), Festival ini diharapkan bukan hanya menjadi destinasi budaya, tetapi juga menjadi panggung edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan nilai-nilai leluhur.

Namun, ancaman globalisasi, komersialisasi budaya, dan kelangkaan regenerasi pemangku adat menjadi tantangan nyata. Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara pemerintah, gereja, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat untuk menjadikan HUS sebagai bagian dari kurikulum lokal dan program pelestarian budaya berbasis iman.

Simfoni Syukur dari Timur Indonesia

Dalam pandangan teologis kontekstual, HUS adalah bentuk liturgi rakyat yang mengakar dalam budaya dan menyentuh langit. Ini sejalan dengan pandangan teolog Don Richardson dalam bukunya “Peace Child”, bahwa di setiap budaya terdapat benih-benih kebenaran Allah. HUS, dalam konteks ini, adalah “benih Allah” di tanah Rote yang perlu dimaknai secara lebih dalam oleh gereja dan masyarakat luas.

Sebagaimana kata bijak dari orang tua Rote, “Teo nalae, teu tama he ai”berkudalah dengan hormat, karena tanah ini milik Tuhan. Kalimat ini tidak hanya mengajarkan sopan santun, tetapi juga menunjukkan relasi antara budaya dan iman. HUS adalah napas spiritual yang meneguhkan identitas orang Rote sebagai bangsa yang tahu diri, tahu adat, dan tahu Tuhan.
Jangan biarkan HUS sekadar menjadi tontonan tahunan. Ia adalah warisan spiritual, jejak budaya, dan suara iman yang harus terus digaungkan dalam kehidupan kita hari ini dan di masa depan. (*)