Kupang, RakyatNTT.ID Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menegaskan komitmennya menjaga nilai-nilai kebangsaan dengan menggelar kuliah umum bertema “Antisipasi Gerakan Intoleransi dan Radikalisme dalam Lingkungan Kampus di Wilayah Kota Kupang.”

Kegiatan berlangsung di Aula Rektorat Undana lantai 3, Senin, 23 Juni 2025, dimulai pukul 09.30 hingga 12.00 WITA. Kuliah umum ini menjadi respons strategis atas meningkatnya tantangan kebhinekaan, terutama di era digital yang rawan penyebaran paham intoleran dan radikal.

Bangun Kampus yang Aman dan Inklusif

Kuliah umum ini bertujuan memperkuat benteng ideologis civitas akademika. Mahasiswa diajak memahami bahaya laten intoleransi serta cara preventif menghadapi radikalisme di lingkungan pendidikan tinggi. Menurut pihak kampus, ini adalah langkah konkret menciptakan ekosistem akademik yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman.

Acara dihadiri oleh Wakil Rektor, para dekan fakultas, serta organisasi kemahasiswaan seperti BEM, BLM, dan GMNI. Kehadiran lintas fakultas menegaskan semangat kolaborasi menjaga persatuan dan nilai kebangsaan.

Mahasiswa Jadi Garda Depan Melawan Radikalisme

Mahasiswa Undana tampak antusias. Mereka mengenakan jas almamater, hadir dengan disiplin, serta aktif berdiskusi. Hal ini mencerminkan kesadaran mereka terhadap pentingnya toleransi dalam kehidupan kampus dan masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc, Wakil Rektor III, mengapresiasi semangat mahasiswa:

“Meski masa libur, kalian tetap hadir. Ini tanda bahwa kalian ingin berkembang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kegiatan ini adalah gerakan awal untuk membangun kampus yang bebas dari paham destruktif.

Nalar Kritis dan Kemanusiaan: Senjata Melawan Paham Ekstrem

Prof. Dr. Drs. Petrus Ly, M.Si. sebagai pembicara pertama, menekankan pentingnya logika dan nalar kritis:

“Mahasiswa akan jadi korban radikalisme jika tidak menggunakan nalar.”
Ia mengajak peserta mengenali benih intoleransi yang sering tak disadari, namun bisa berbahaya dalam jangka panjang.

Selanjutnya, Pdt. Jeky Latuperissa mengangkat pentingnya nilai kemanusiaan dan jaringan lintas iman, suku, dan budaya:

“Mahasiswa harus jadi pelopor harmoni, bukan sekadar pengamat perbedaan.”
Ia juga membagikan pengalaman langsung menghadapi radikalisme di lapangan.

Momentum Penguatan Ideologi dan Moral di Kalangan Mahasiswa

Kuliah umum ini ditutup dengan sesi interaktif dan pembagian doorprize. Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi pemicu tindakan nyata untuk menciptakan generasi mahasiswa yang berpikir kritis, berjiwa toleran, dan siap menghadapi tantangan global.

Undana menegaskan bahwa kuliah umum semacam ini akan terus digelar untuk memperkuat ketahanan sosial, moral, dan ideologis civitas akademika. Sebuah langkah nyata demi masa depan Indonesia yang damai dan bersatu. (*/hms/rnc)