Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
DIGITALISASI tata kelola sekolah sudah menjadi arus utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Berbagai platform seperti ARKAS, SIPLah, dan Rapor Pendidikan telah diintegrasikan untuk mendukung Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang akuntabel, transparan, dan berbasis data. Namun, di balik kemajuan regulasi dan infrastruktur digital tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepala sekolah kita sudah siap memimpin sekolah secara digital?
Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Digital
Dalam konteks MBS, kepala sekolah bukan sekadar administrator, tetapi pemimpin pembelajaran sekaligus manajer perubahan. Di era digital, peran ini semakin kompleks karena menyangkut literasi data, kemampuan menggunakan platform teknologi, dan membangun budaya digital di sekolah.
Namun realitas di banyak sekolah dasar dan menengah khususnya di Kota Kupang dan wilayah NTT masih menunjukkan kesenjangan yang mencolok antara regulasi dan implementasi. Banyak kepala sekolah masih mengalami kesulitan dalam memahami fitur ARKAS, menginterpretasi data dari Rapor Pendidikan, bahkan dalam mengelola grup komunikasi digital dengan guru dan orang tua.
Studi Kasus di Kota Kupang
Berdasarkan observasi penulis dan hasil wawancara dengan beberapa kepala sekolah di Kupang, ditemukan bahwa pelatihan TIK yang mereka ikuti bersifat singkat dan tidak berlanjut. Salah satu kepala sekolah di Kelapa Lima menyatakan:
“Kami pernah pelatihan ARKAS dua tahun lalu, tapi setelah itu tidak ada pendampingan. Sekarang sistemnya sudah berubah, kami bingung lagi.”
Di SD GMIT Liliba, misalnya, kepala sekolah mengakui bahwa ia belum pernah secara mandiri menganalisis Rapor Pendidikan karena tidak yakin bagaimana membaca indikator mutu yang tersedia.
Padahal, menurut Kemendikbudristek (2024), lebih dari 390.000 sekolah telah memakai ARKAS, dan Rapor Pendidikan digunakan sebagai basis perencanaan berbasis data. Ini menunjukkan bahwa sistem tersedia, tetapi kapasitas manajerial digital kepala sekolah masih sangat terbatas.
Antara Beban Administratif dan Kepemimpinan Visioner
Digitalisasi di satu sisi memang dapat menyederhanakan alur pelaporan dan transparansi. Namun, jika kepala sekolah belum memahami sistem digital secara utuh, maka yang muncul justru rasa terbebani, bukan berdaya. Kepemimpinan menjadi reaktif mengejar pelaporan dan pengisian aplikasialih-alih strategis dan partisipatif.
Tanpa visi kepemimpinan digital yang kuat, MBS hanya menjadi perpanjangan birokrasi pusat. Otonomi hanya tampak pada permukaan, tanpa perubahan budaya dan pengambilan keputusan berbasis data. Seperti dikatakan oleh John C. Maxwell, ‘A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.’
Rekomendasi Strategis
Agar kepala sekolah benar-benar mampu memimpin transformasi digital dalam MBS, diperlukan beberapa langkah strategis:
1. Pelatihan Digital Leadership Berkelanjutan
Kepala sekolah perlu dilatih bukan hanya secara teknis, tetapi secara konseptual dalam membaca data mutu, mengelola sistem informasi sekolah, dan merancang strategi peningkatan berbasis data.
2. Pendampingan Lapangan dan Komunitas Praktik
Model coaching and mentoring oleh pengawas atau fasilitator TIK daerah penting dibangun secara terstruktur, tidak hanya satu kali pelatihan.
3. Integrasi Evaluasi Digital dalam Penilaian Kinerja Kepala Sekolah
Pemanfaatan teknologi dan data seharusnya menjadi indikator dalam PKKS (Penilaian Kinerja Kepala Sekolah), agar literasi digital tidak hanya bersifat opsional.
4. Kolaborasi Antarsekolah dan LPTK
Kampus keguruan dan sekolah perlu bekerja sama menghadirkan program pengembangan kompetensi kepala sekolah berbasis kebutuhan lokal.
Menuju Kepemimpinan Sekolah Abad 21
Kepemimpinan kepala sekolah di era digital tidak cukup hanya memahami platform, tetapi juga membangun visi, sistem, dan budaya digital di lingkungan sekolah. Jika kepala sekolah hanya menjadi pengguna pasif teknologi, maka MBS akan berjalan tanpa arah. Tapi jika mereka menjadi motor penggerak transformasi digital, maka otonomi sekolah benar-benar menjadi kenyataan.
“Di tangan kepala sekolah yang melek digital dan strategis, teknologi menjadi jembatan perubahan. Di tangan yang pasif, ia hanya menjadi beban yang disesalkan”. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan