Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,7 mengguncang wilayah Pantai Barat Laut Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026) pagi.
Hingga laporan ini disampaikan, belum diketahui dampak kerusakan maupun korban yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa M5,7 di Manggarai Timur tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer dengan episenter berada di koordinat 8,33° LS dan 120,64° BT.
Lokasi episenter berada di darat, sekitar 36 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT.
“Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempabumi M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB,” kata Wijayanto, Kamis (20/8/2026).
Gempa M5,7 Merupakan Gempa Dangkal
Berdasarkan analisis BMKG, gempa M5,7 tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Hal itu diketahui berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter gempa.
Sementara itu, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun geser atau normal-oblique.
Meski getarannya cukup kuat dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, BMKG memastikan hasil pemodelan tsunami menunjukkan gempa tersebut tidak memiliki potensi tsunami.
“Untuk hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Wijayanto.
Getaran Gempa Dirasakan Kuat di Manggarai
Gempa M5,7 tersebut dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Kabupaten Manggarai.
BMKG mencatat intensitas getaran mencapai V-VI MMI di Kabupaten Manggarai.
Pada skala tersebut, getaran gempa dapat dirasakan oleh hampir seluruh penduduk. Masyarakat umumnya terkejut dan berlari keluar rumah.
Getaran dengan intensitas tersebut juga berpotensi menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan, seperti plester dinding yang jatuh hingga kerusakan pada cerobong asap pabrik.
Sementara itu, intensitas V MMI tercatat dirasakan di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende.
Getaran dengan intensitas III-IV MMI juga dirasakan di Kabupaten Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Kabupaten Sikka.
Hingga saat ini, informasi mengenai dampak kerusakan maupun korban akibat gempa M5,7 tersebut masih dalam pemantauan.
Hampir 3.500 Gempa Susulan Tercatat
BMKG mencatat aktivitas kegempaan di Flores masih cukup tinggi setelah gempa utama berkekuatan M7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Hingga Kamis (20/8/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 3.489 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar tercatat mencapai M6,2.
Wijayanto mengatakan gempa M5,7 yang terjadi pada Kamis pagi merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan pascagempa utama M7,7 di Flores.
“Hingga tanggal 20 Agustus 2026, pukul 08.00.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3489 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M6,2,” tuturnya.
Aktivitas gempa susulan tersebut menjadi perhatian karena masyarakat di sejumlah wilayah Flores masih berada dalam kondisi pemulihan setelah gempa utama.
BMKG Imbau Warga Tak Percaya Isu Gempa
BMKG kembali mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang sumber maupun kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat diminta tidak mempercayai prediksi atau kabar mengenai gempa yang beredar di media sosial apabila tidak berasal dari sumber resmi.
“Masyarakat diminta memastikan informasi terkait gempa bumi hanya bersumber dari kanal resmi BMKG,” pungkas Wijayanto.
Dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan, masyarakat di Flores diimbau tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat gempa utama. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan