Borong, RakyatNTT.ID – Sedikitnya enam warga Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 tersebut berpusat di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dan dirasakan kuat di sejumlah wilayah di Pulau Flores.

Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, mengatakan enam korban meninggal dunia tersebut merupakan data awal yang diperoleh pemerintah kecamatan berdasarkan laporan dari para kepala desa.

“Untuk sementara yang sudah pasti ada 6 orang meninggal dunia. Ini berdasarkan hasil konfirmasi langsung kami dengan para kepala desa,” ujar Agustinus, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Agustinus, jumlah korban meninggal dunia masih berpotensi bertambah. Pasalnya, sejumlah warga diduga masih tertimbun material bangunan yang runtuh akibat kuatnya guncangan gempa.

Data Korban Masih Sulit Diperoleh

Proses pendataan korban dan kerusakan di Lamba Leda Utara menghadapi sejumlah kendala. Aliran listrik dilaporkan padam total, sementara jaringan telekomunikasi terputus di sejumlah titik.

Kondisi tersebut membuat komunikasi antara pemerintah kecamatan dengan sejumlah desa menjadi terhambat. Ditambah cuaca mendung, pemantauan terhadap beberapa wilayah yang belum dapat dihubungi menjadi semakin sulit.

Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara hingga kini juga belum dapat memastikan identitas enam warga yang dilaporkan meninggal dunia.

“Kami belum bisa mengidentifikasi para korban karena saat ini posisi kami semua sedang mengungsi ke gunung. Langkah ini diambil menyusul peringatan dini tsunami dari BMKG,” jelas Agustinus.

Dengan kondisi komunikasi yang belum normal, pemerintah kecamatan masih menunggu laporan lebih lengkap dari desa-desa yang terdampak.

Warga Mengungsi ke Pegunungan

Selain menangani dampak gempa, pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara bersama masyarakat melakukan evakuasi ke wilayah pegunungan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami menyusul gempa kuat yang mengguncang Nagekeo.

Pemerintah kecamatan mengimbau seluruh warga yang tinggal di kawasan pesisir segera meninggalkan rumah dan bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi.

Evakuasi dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang tsunami sekaligus menjauhkan masyarakat dari kawasan yang berpotensi terdampak.

Masyarakat yang telah berada di lokasi pengungsian juga diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Petugas Masih Melakukan Pendataan

Di tengah kondisi darurat, proses pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan. Pemerintah daerah bersama unsur terkait berupaya mendapatkan informasi terbaru dari setiap desa yang terdampak.

Kondisi lapangan yang masih terkendala listrik dan jaringan komunikasi membuat proses pengumpulan data membutuhkan waktu.

Pemerintah meminta masyarakat mengikuti arahan petugas dan tidak kembali ke kawasan pesisir sebelum dinyatakan aman.

Informasi mengenai jumlah korban masih bersifat sementara dan dapat berubah setelah proses verifikasi serta pencarian di lapangan selesai dilakukan.

Masyarakat juga diimbau terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, terutama terkait perkembangan aktivitas gempa susulan maupun status peringatan tsunami.

Gempa M7,7 yang mengguncang Nagekeo menjadi salah satu gempa kuat yang berdampak luas di Flores. Hingga kini, pemerintah dan tim gabungan masih melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak, termasuk proses evakuasi, pencarian korban, serta pendataan kerusakan bangunan. (*/rnc)