Mexico City, RakyatNTT.ID – Timnas Iran akhirnya tiba di Kota Tijuana, Meksiko, untuk menjalani persiapan akhir menghadapi Piala Dunia 2026. Namun, kedatangan skuad berjuluk Team Melli itu diwarnai polemik visa dengan Amerika Serikat yang memicu kekecewaan dari pemain, pelatih hingga Federasi Sepak Bola Iran.

Rombongan Iran mendarat di Tijuana pada Minggu (7/6/2026) waktu setempat setelah menjalani pemusatan latihan selama hampir tiga pekan di Turki. Tijuana dipilih sebagai markas tim selama turnamen berlangsung meskipun seluruh laga Grup G akan dimainkan di wilayah Amerika Serikat.

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengungkapkan kekecewaannya atas keterlambatan proses visa yang dinilai mengganggu persiapan tim. Menurutnya, Iran seharusnya sudah berada di kawasan Amerika Utara lebih awal untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu yang mencapai 12 jam.

“Kami seharusnya sudah berada di sini pekan lalu karena perbedaan waktu 12 jam membutuhkan dua pekan penyesuaian. Dalam turnamen seperti ini, aspek kemanusiaan dan etika seharusnya dihormati,” kata Ghalenoei.

Ia menegaskan bahwa selama berkarier di sepak bola internasional, dirinya belum pernah menghadapi situasi serupa. Keterlambatan visa dinilai menjadi hambatan yang tidak seharusnya terjadi menjelang ajang sebesar Piala Dunia.

Kritik serupa juga disampaikan kapten tim, Ehsan Hajsafi. Ia mempertanyakan alasan lambannya penerbitan visa oleh pemerintah Amerika Serikat, terutama di tengah situasi yang menurutnya cukup berat bagi Iran dalam beberapa tahun terakhir.

“Kenapa harus terlambat seperti ini? Dalam setahun terakhir kami mengalami dua perang yang dipaksakan terhadap negara kami,” ujar Hajsafi.

Meski demikian, Hajsafi memastikan kondisi tim tetap siap menghadapi persaingan di Piala Dunia 2026. Ia optimistis Iran mampu melangkah ke babak berikutnya.

“Tim kami 100 persen siap dan kami yakin bisa lolos dari fase grup,” tegasnya.

Di Piala Dunia 2026, Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Selandia Baru, dan Mesir. Mereka dijadwalkan menghadapi Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni, Belgia pada 21 Juni, serta Mesir di Seattle pada 26 Juni.

Ketegangan semakin meningkat setelah Kedutaan Besar Iran di Turki mengungkapkan bahwa sekitar 15 staf administrasi dan manajemen tim ditolak visanya oleh Amerika Serikat. Federasi Sepak Bola Iran mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk campur tangan politik dalam olahraga.

Pihak Iran bahkan meminta FIFA turun tangan dan mengambil langkah terhadap Amerika Serikat karena dianggap melanggar prinsip akses yang setara bagi seluruh peserta turnamen internasional.

Di sisi lain, pejabat pemerintah Amerika Serikat membela kebijakan tersebut dengan alasan keamanan nasional. Mereka menegaskan bahwa sistem visa tidak boleh disalahgunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan kepentingan keamanan negara.

Kontroversi ini membuat persiapan Iran menuju Piala Dunia 2026 berada dalam tekanan besar bahkan sebelum pertandingan pertama mereka dimulai. Di tengah target lolos dari fase grup, Team Melli kini harus menghadapi tantangan nonteknis yang berpotensi memengaruhi fokus dan kesiapan tim sepanjang turnamen. (*/rnc)