Kupang, RakyatNTT.ID Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) sebagai pusat layanan kesehatan sekaligus institusi pendidikan klinis yang unggul.

Komitmen tersebut dibahas dalam Workshop Revitalisasi RSPTN bertajuk “Penguatan Peran RSPTN dalam Kerangka Sistem Kesehatan Akademik Menuju Rumah Sakit Pendidikan Berkelas Internasional” yang digelar di Rumah Sakit Universitas Padjadjaran, Selasa (10/3/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dan Asosiasi RSPTN ini dihadiri oleh Wakil Rektor II Undana Bidang Umum dan Keuangan, Prof. Dr. Paul Gabriel Tamelan, M.Si, yang mewakili Rektor Undana.

Dalam kegiatan strategis tersebut, Wakil Rektor II didampingi oleh Direktur RS Undana Dr. Efrisca M. Br. Damanik, M.Biomed., Sp.PA., MM, Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, serta Koordinator Program Studi Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Kristian Ratu, Sp.OG.

Perkuat Peran RS Umum Undana

Dalam pemaparannya, Prof. Paul Gabriel Tamelan menyoroti sejumlah keunggulan kompetitif RS Umum Undana yang menjadi fondasi pengembangan rumah sakit pendidikan tersebut.

RS Umum Undana berdiri di atas lahan seluas 3,2 hektare dengan luas bangunan sekitar 1.215 meter persegi. Lokasinya yang strategis dan dekat dengan kawasan pendidikan menjadikannya mudah diakses masyarakat sekaligus mendukung kegiatan akademik.

Menurutnya, RS Umum Undana memiliki peran penting sebagai tulang punggung pendidikan klinis, penelitian kesehatan, dan pelayanan medis, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Undana.

“RS Umum Undana didukung oleh tenaga pendidik kompeten yang juga merupakan dosen aktif di Undana. Integrasi antara akademisi dan praktisi medis ini menjadi kunci dalam memberikan pelayanan berkualitas sekaligus mencetak tenaga kesehatan masa depan,” ujarnya.

Didukung 146 Tenaga Profesional

Berdasarkan data terbaru, RS Umum Undana saat ini diperkuat oleh 146 personel yang terdiri dari berbagai tenaga profesional.

Komposisi tersebut mencakup 23 dokter, termasuk 10 dokter spesialis di berbagai bidang seperti bedah, anak, obstetri dan ginekologi, hingga forensik. Selain itu terdapat 69 tenaga kesehatan lainnya, yang sebagian besar merupakan perawat sebanyak 50 orang, serta 54 staf non-tenaga kesehatan.

Ketersediaan sumber daya manusia ini menjadi modal penting dalam pengembangan RS Undana sebagai rumah sakit pendidikan yang terintegrasi dengan sistem akademik.

Akselerasi Fasilitas dan Teknologi

Meski memiliki fondasi yang kuat, pihak universitas mengakui masih diperlukan akselerasi penguatan sarana, prasarana, dan teknologi kesehatan guna mencapai standar rumah sakit pendidikan berkelas internasional.

Saat ini sejumlah fasilitas pendukung telah tersedia, seperti perpustakaan, ruang diskusi, ruang istirahat koas, serta akses teknologi informasi untuk menunjang proses pembelajaran klinis.

Namun, Undana tengah memprioritaskan pengadaan teknologi medis modern dan peralatan penunjang pendidikan klinis yang lebih komprehensif agar kualitas layanan kesehatan dan pendidikan kedokteran dapat terus meningkat.

Menuju Sistem Kesehatan Akademik

Revitalisasi RSPTN ini diharapkan dapat memperkuat peran RS Umum Undana dalam ekosistem Academic Health System (AHS) yang mengintegrasikan layanan kesehatan, pendidikan, dan riset medis.

Dengan dukungan teknologi dan fasilitas yang lebih lengkap, RS Umum Undana diproyeksikan tidak hanya menjadi rumah sakit pendidikan nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional dalam pelayanan kesehatan berbasis riset.

Keikutsertaan delegasi Undana dalam workshop ini menjadi langkah konkret universitas untuk memperkuat sinergi dengan Ditjen Dikti dan jaringan RSPTN nasional, sekaligus memastikan peta jalan pengembangan rumah sakit pendidikan berjalan sesuai standar global yang ditetapkan pemerintah. (*/rnc)