Tel Aviv, RakyatNTT.ID – Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran memuncak pada Minggu, 15 Juni 2025, setelah Israel meluncurkan serangan udara masif ke pusat kota Teheran.

Serangan tersebut menargetkan kantor pusat Kementerian Pertahanan Iran dan sejumlah fasilitas yang diduga terkait dengan program nuklir negara tersebut.

Sebagai respons, Iran membalas dengan meluncurkan rentetan rudal balistik ke berbagai wilayah Israel, menewaskan sedikitnya delapan warga sipil, termasuk anak-anak dan lansia, serta melukai lebih dari 300 orang lainnya.

“Teheran sedang terbakar,” ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan skala serangan yang dilakukan angkatan udara Israel terhadap sasaran strategis Iran.

Jet-jet tempur Israel menggempur fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Isfahan, menghancurkan pusat riset nuklir serta beberapa instalasi militer utama di Iran bagian barat.

Gambar satelit yang dianalisis oleh Associated Press menunjukkan kerusakan besar, termasuk penghancuran pemasok listrik untuk fasilitas sentrifugal bawah tanah.

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengonfirmasi kerusakan parah pada fasilitas Natanz dan memperingatkan bahwa hilangnya pasokan listrik dapat berdampak besar terhadap infrastruktur nuklir Iran.

“Kerusakan ini butuh waktu berminggu-minggu untuk diperbaiki,” kata seorang pejabat militer Israel.

Israel juga mengklaim telah berhasil menewaskan tiga tokoh penting militer Iran, yaitu Jenderal Mohammad Bagheri, Hossein Salami, dan Amir Ali Hajizade – tokoh utama di balik program rudal dan Garda Revolusi Iran.

Iran Balas dengan Rudal

Sebagai pembalasan, Garda Revolusi Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel sejak Jumat malam hingga Minggu dini hari. Beberapa rudal berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil.

Iran menyebut telah mengenai fasilitas produksi bahan bakar jet tempur Israel, meskipun klaim ini belum dibenarkan secara resmi oleh otoritas Israel.

Dampak Diplomatik

Dalam pertemuan dengan pejabat Uni Eropa, diplomat Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa perundingan nuklir kini “tidak lagi relevan” dan menuding serangan Israel sebagai bukti keterlibatan langsung Washington.

Mantan Presiden AS, Donald Trump, turut menanggapi perkembangan situasi dengan pernyataan keras. “Iran harus membuat kesepakatan sebelum tidak ada yang tersisa,” ujar Trump. (*/rnc)